JAKARTA, AFU.ID - Iran mengakui hampir 100 pesawat sipil rusak selama perang dengan Amerika Serikat dan Israel yang berlangsung sekitar 40 hari. Amerika Serikat juga mengalami kerugian besar pada aset udaranya, terutama drone dan pesawat pendukung militer selama operasi yang dikenal sebagai Operation Epic Fury. Menteri Perhubungan dan Pembangunan Perkotaan Iran Farzaneh Sadeq mengatakan hampir 100 pesawat terdampak serangan di sejumlah bandara Iran, termasuk di Tehran, Bushehr, Mashhad, dan Bandar Abbas. Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers pada Senin (17/8/2026) seperti dikutip dari Tasnim.
Ia menjelaskan, sekitar 100 pesawat yang terdampak, hanya delapan armada yang masih aktif sebelum perang berlangsung. Sebagian besar pesawat lainnya memang sudah tidak beroperasi sebelum konflik dan selama ini dipakai jadi suku cadang pesawat lain. Menurut klaim Iran, kerusakan itu hanya pada pesawat sipil, tidak termasuk armada tempur Iran. Meski mengalami kerusakan, Iran Air disebut masih mampu mengoperasikan penerbangan Haji dengan delapan pesawat yang tersisa. Selain pesawat, Sadeq menyebut sekitar 140 kapal sipil swasta mengalami kerusakan. Serangan juga berdampak terhadap sekitar 100.000 bangunan komersial dan tempat tinggal di 400 kota yang tersebar di 25 provinsi.
Di pihak Amerika Serikat, laporan Congressional Research Service (CRS) yang disusun untuk Kongres pada Mei 2026 mencatat sedikitnya 42 pesawat militer AS mengalami kerusakan atau kehancuran dalam Operation Epic Fury, yang mencakup pesawat berawak maupun drone. Di antaranya, empat F-15E Strike Eagle, satu F-35A Lightning II, satu A-10 Thunderbolt II, tujuh pesawat tanker KC-135 Stratotanker, satu pesawat peringatan dini E-3 Sentry, dua MC-130J Commando II, satu helikopter HH-60W Jolly Green II, 24 drone MQ-9 Reaper, serta satu MQ-4C Triton.
Kerugian tersebut tidak seluruhnya disebabkan oleh tembakan Iran. Tiga F-15E, misalnya, ditembak jatuh oleh tembakan sendiri atau friendly fire di atas Kuwait. Sementara satu F-15E lainnya jatuh dalam operasi di wilayah Iran. Dua MC-130J juga dilaporkan dihancurkan setelah tidak dapat meninggalkan wilayah Iran ketika menjalankan misi pencarian dan penyelamatan.
Sedangkan untuk jumlah drone AS yang hancur, juga meningkat jumlahnya. Sedikitnya 45 MQ-9 Reaper telah hilang selama konflik, atau sekitar seperempat dari keseluruhan armada Reaper AS. Nilai kehilangan drone tersebut diperkirakan lebih dari 1,3 miliar dolar AS. Kerugian tersebut menambah beban biaya perang yang harus ditanggung Washington. Dalam kesaksian di hadapan Kongres pada Mei 2026, pejabat Pentagon menyebut perkiraan biaya operasi militer AS terkait Iran telah mencapai sekitar 29 miliar dolar AS. (EER)