JAKARTA, AFU.ID — Pasukan Aerospace Force Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim berhasil menembak jatuh sebuah drone MQ-9 Reaper buatan Amerika Serikat yang disebut memasuki wilayah udara Provinsi Hormozgan. Drone tersebut ditembak menggunakan sistem pertahanan udara yang menjadi bagian dari jaringan pertahanan udara terpadu Iran.
Klaim itu disampaikan IRGC pada Jumat (14/8/2026). Dalam keterangannya, IRGC menyebut MQ-9 berhasil dicegat setelah memasuki wilayah udara Hormozgan. Namun, IRGC belum menjelaskan secara rinci lokasi jatuhnya drone maupun sistem pertahanan udara spesifik yang digunakan untuk menjatuhkannya. Laporan mengenai insiden tersebut juga belum mendapatkan konfirmasi independen dari pihak Amerika Serikat.
MQ-9 Reaper bukan drone pengintai biasa. Pesawat nirawak ini dikembangkan General Atomics untuk menjalankan misi intelligence, surveillance and reconnaissance (ISR), yakni mengumpulkan informasi, melakukan pengawasan wilayah, serta melakukan pengintaian dari jarak jauh. MQ-9 juga dapat digunakan untuk misi serangan terhadap sasaran darat. Drone ini pula yang digunakan Amerika Serikat dalam operasi yang menewaskan Jenderal IRGC Qasem Soleimani di Baghdad, Irak, pada Januari 2020.
Keunggulan utama MQ-9 adalah kemampuan bertahan di udara dalam waktu lama. Drone ini memiliki panjang sekitar 11 meter dan bentang sayap sekitar 20 meter. Dengan daya tahan terbang lebih dari 20 jam dalam konfigurasi tertentu, MQ-9 dapat digunakan untuk mengawasi wilayah yang luas dan terus mengirimkan informasi kepada operator tanpa harus mempertaruhkan pilot di dalam pesawat.
MQ-9 juga dilengkapi berbagai sensor untuk menjalankan misi pengintaian dan pengawasan. Sistem tersebut memungkinkan operator memperoleh gambaran situasi di lapangan, termasuk memantau pergerakan kendaraan maupun aktivitas militer dari udara. Drone ini dapat membawa berbagai muatan misi dan, dalam konfigurasi bersenjata, dilengkapi rudal udara-ke-darat seperti AGM-114 Hellfire.
Kemampuan tersebut membuat MQ-9 menjadi salah satu aset penting Amerika Serikat dalam operasi pengawasan dan keamanan di kawasan konflik. Drone jenis ini dapat digunakan untuk memantau aktivitas militer, mengidentifikasi sasaran, mendukung pengumpulan intelijen, hingga memberikan informasi bagi operasi militer lainnya. Untuk itu, jatuhnya MQ-9 punya arti besar bagi AS. Jika klaim Iran benar, dapat diartikan bahwa sistem pertahanan udara Iran mampu mendeteksi dan menyerang salah satu alat pengintai jarak jauh yang digunakan militer AS.
Hormozgan sendiri merupakan wilayah strategis karena berada di pesisir selatan Iran dan mencakup kawasan sekitar Selat Hormuz. Selat tersebut menjadi salah satu jalur pelayaran energi terpenting dunia. Aktivitas pesawat militer asing di sekitar wilayah tersebut karena itu memiliki sensitivitas tinggi bagi Teheran. Iran sebelumnya juga beberapa kali mengklaim berhasil menembak jatuh drone militer Amerika Serikat. Namun, untuk insiden terbaru di Hormozgan, detail mengenai bagaimana MQ-9 tersebut ditembak jatuh dan apakah benar merupakan aset militer AS masih menunggu konfirmasi lebih lanjut dari Washington maupun sumber independen. (EER)