JAKARTA AFU.ID — Amerika Serikat menghentikan sementara penjualan senjata ke Taiwan untuk memastikan ketersediaan amunisi bagi operasi militernya menghadapi Iran. Kebijakan itu diumumkan di tengah meningkatnya penggunaan rudal dan persenjataan canggih oleh militer AS dalam perang yang berlangsung sejak akhir Februari 2026.
Pelaksana Tugas Menteri Angkatan Laut AS, Hung Cao, menjelaskan penghentian sementara tersebut dilakukan agar stok senjata dan amunisi tetap mencukupi untuk mendukung operasi militer di Iran. Meski demikian, ia menegaskan persediaan amunisi AS saat ini masih dalam kondisi aman.
“Kami hanya memastikan seluruh kebutuhan operasi tersedia. Penjualan senjata untuk militer asing akan dilanjutkan ketika pemerintah menganggapnya perlu,” ujar Cao dalam sidang Sub-komite Pertahanan Senat AS di Washington D.C., Kamis (21/5/2026).
Keputusan itu membuat penjualan senjata senilai sekitar 14 miliar dolar AS atau setara Rp248 triliun kepada Taiwan untuk sementara tertunda. Presiden Donald Trump menyebut keputusan tersebut masih terus dipertimbangkan dan dapat berubah sewaktu-waktu.
Dalam wawancara dengan Fox News, Trump mengakui isu penjualan senjata ke Taiwan juga menjadi bagian dari pembicaraannya dengan Presiden China Xi Jinping. Ia bahkan menyebut opsi penjualan senjata itu bisa saja dijadikan alat negosiasi dalam hubungan Washington-Beijing.
“Saya mungkin akan melakukannya, mungkin juga tidak,” kata Trump terkait penjualan senjata ke Taiwan.
Selama beberapa dekade, Amerika Serikat diketahui menjalankan prinsip Six Assurances dalam hubungan dengan Taiwan, salah satunya tidak berkonsultasi dengan China terkait penjualan senjata ke Taipei. Namun, keputusan terbaru ini memunculkan spekulasi bahwa faktor geopolitik dan konflik Iran kini ikut memengaruhi kebijakan pertahanan AS di kawasan Asia.
Di sisi lain, berbagai laporan menyebut perang Iran telah menguras stok persenjataan militer Amerika. Pentagon disebut telah menggunakan ribuan rudal sejak konflik pecah pada 28 Februari lalu, termasuk rudal Tomahawk, Patriot, ATACMS, hingga rudal jelajah siluman jarak jauh.
Akibat tingginya penggunaan amunisi tersebut, Gedung Putih dikabarkan tengah menyiapkan permintaan tambahan dana perang ke Kongres senilai 80 hingga 100 miliar dolar AS atau sekitar Rp1,7 kuadriliun. Sebagian besar anggaran itu akan digunakan untuk mengisi kembali cadangan senjata yang menipis selama operasi militer berlangsung.
Meski gencatan senjata yang mulai berlaku sejak April sedikit mengurangi intensitas penggunaan amunisi, Washington disebut masih berhitung hati-hati sebelum kembali membuka penjualan senjata ke negara mitra, termasuk Taiwan. (ANT/RAI)
Sumber: Anadolu