AFU.id

Houthi Blokade Laut Merah: Saudi Siap Tempur, IRGC Sudah di Lokasi, Krisis Global Menanti

Bagikan:

Penulis: Erik Erfinanto

Ringkasan Berita

Kelompok Houthi di Yaman mengumumkan blokade maritim terhadap kapal-kapal Arab Saudi di Laut Merah, yang berpotensi mengganggu dua jalur ekspor minyak utama dunia dan meningkatkan risiko krisis energi global. Ancaman ini muncul setelah ketegangan meningkat akibat serangan terhadap Bandara Internasional Sanaa, di mana Arab Saudi dituduh sebagai dalang. Respons dari koalisi militer Saudi menunjukkan kesiapan untuk melindungi jalur pelayaran tersebut, sementara kehadiran Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di Yaman menambah kompleksitas situasi, dengan potensi dampak signifikan terhadap pasokan energi dan harga minyak di pasar global.

Houthi Blokade Laut Merah: Saudi Siap Tempur, IRGC Sudah di Lokasi, Krisis Global Menanti
Houthi di Yaman menyatakan segera melakukan blokade maritim di Laut Merah, tepatnya di Selad Aden untuk kapal-kapal milik Saudi. (FOTO AFUID)

Respons Saudi: Siap Bertindak

Ancaman tersebut langsung direspons koalisi militer pimpinan Arab Saudi di Yaman. Juru bicara koalisi, Turki Al-Malki, mengatakan pihaknya telah mulai menerapkan langkah-langkah operasional untuk melindungi kapal-kapal yang melintasi Selat Bab el-Mandeb. "Semua ancaman Houthi terhadap kapal-kapal yang melintas akan ditangani dengan cepat dan tegas," kata Al-Malki melalui pernyataan di X.

Secara terpisah, Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menegaskan kerajaan akan mengambil seluruh langkah yang diperlukan untuk melindungi kapal-kapalnya sesuai hukum internasional dan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (UNCLOS) 1982. Seorang pejabat di kapal tanker minyak yang berada di Laut Merah juga mengatakan telah terdengar siaran radio dari pihak yang mengatasnamakan "angkatan bersenjata Yaman" kepada kapal-kapal di kawasan tersebut. Dalam siaran itu disebutkan bahwa kapal-kapal Arab Saudi telah diblokir. Awak kapal yang menerima siaran meyakini pesan tersebut asli.

Belum dapat dipastikan bagaimana Houthi akan menegakkan blokade tersebut, termasuk apakah mereka akan kembali menyerang kapal-kapal komersial seperti yang dilakukan pada 2023 dan 2024. Namun ancaman terhadap Bab el-Mandeb dinilai sangat serius karena jalur tersebut kini menjadi rute utama ekspor minyak Teluk setelah terganggunya Selat Hormuz.

Sejak Iran membatasi lalu lintas di Selat Hormuz menyusul konflik dengan Israel dan Amerika Serikat pada akhir Februari, Arab Saudi mengalihkan lebih dari 70 persen ekspor minyak mentahnya ke Pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Dari Yanbu, kapal menuju Eropa melalui Terusan Suez, sedangkan ekspor menuju Asia berlayar ke selatan melewati Bab el-Mandeb. Data Kpler dan Signal Ocean menunjukkan pengiriman minyak dari Yanbu dalam beberapa pekan terakhir mencapai rata-rata sekitar 4 juta barel per hari, melonjak dibanding sekitar 973 ribu barel per hari pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, total volume minyak yang melintasi Bab el-Mandeb mencapai sekitar 7,4 juta barel per hari pada Juni atau sekitar 7 persen produksi minyak dunia. Angka tersebut meningkat tajam dibanding sekitar 4,2 juta barel per hari pada tahun sebelumnya. Jalur Laut Merah selama beberapa bulan terakhir menjadi penyangga utama pasokan energi global sekaligus membantu meredam lonjakan harga minyak setelah gangguan di Selat Hormuz. Selain itu, Saudi juga sedang mempertimbangkan perluasan jaringan pipa minyak menuju pesisir Laut Merah untuk mengurangi ketergantungan terhadap Selat Hormuz.

IRGC Disebut Sudah Berada di Yaman

Sebagai koalisi Houthi, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) telah berada di Yaman untuk mengawasi rencana penutupan Laut Merah apabila Amerika Serikat melanjutkan serangan terhadap infrastruktur energi Iran. Tiga sumber pejabat yang dikutip Reuters, terdiri atas dua pejabat Iran dan satu pejabat dari negara Arab, mengatakan rencana penutupan jalur pelayaran strategis tersebut telah dibahas di tingkat kepemimpinan Iran. Pesan mengenai rencana itu juga telah disampaikan kepada Houthi dan diterima oleh kelompok tersebut.

Seorang sumber yang dekat dengan Houthi mengatakan kelompok itu telah merampungkan persiapan dengan mengerahkan rudal dan drone di sekitar Selat Bab el-Mandeb, termasuk di dataran tinggi Yaman yang menghadap Hodeidah dan Teluk Aden. Menurut sumber tersebut, Houthi kini hanya menunggu perintah untuk memulai operasi. Ia juga menyebut perwakilan IRGC yang berada di Yaman akan menentukan kapan penutupan Bab el-Mandeb dilaksanakan.

Laporan itu muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menyerang pembangkit listrik dan jembatan di Iran apabila Teheran menolak kembali ke meja perundingan. Sejumlah analis memperingatkan dampak blokade Laut Merah dapat jauh melampaui kawasan Timur Tengah. Wakil Presiden Senior sekaligus Kepala Geopolitik Rystad Energy, Jorge Leon, mengatakan Houthi memang belum menjelaskan mekanisme pelaksanaan blokade. "Jika gencatan senjata tidak terwujud dan Hormuz sebagian besar tetap ditutup sementara ancaman Houthi terhadap pengiriman barang di Laut Merah semakin meningkat, risiko kenaikan harga minyak secara signifikan akan sangat besar," kata Leon kepada Al-Monitor.

Direktur Riset Komoditas Kpler Matt Smith mengatakan penyulingan minyak di Asia berpotensi mengalami keterlambatan pasokan hingga sekitar satu bulan karena kapal tanker harus memutar melalui Tanjung Harapan. "Dampaknya akan sangat besar pada bulan pertama. Dampak terbesar akan terjadi pada aliran minyak dari Saudi," ujarnya. (EER)

Berita Terkait

Pilihan Redaksi