JAKARTA, AFU.ID — Dampak tumpahan batu bara dari tongkang Nautica 22 di perairan Pangandaran mulai dirasakan nelayan. Sejumlah biota laut, termasuk benur atau baby lobster, dilaporkan mati di kawasan terdampak. Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Pangandaran, Jeje Wiradinata, mengatakan kematian biota laut menjadi bukti bahwa tumpahan batu bara telah berdampak terhadap ekosistem pesisir. Menurutnya, peringatan yang selama ini disampaikan HNSI sempat dipertanyakan sejumlah pihak, termasuk mengenai usulan penutupan sementara kawasan perairan.
"Sekarang terbukti kan? Omongan saya itu terbukti setelah benar-benar banyak yang mati," kata Jeje usai pertemuan dengan pemerintah daerah dan pihak terkait di Pangandaran, Rabu (8/7/2026). Jeje mendesak pemerintah segera menutup sementara kawasan terdampak, mempercepat pengangkatan material batu bara yang mengendap di dasar laut, dan meminta perusahaan pemilik muatan memberikan kompensasi kepada nelayan yang kehilangan mata pencaharian. Menurutnya, prioritas utama bukan mengangkat bangkai tongkang, melainkan membersihkan batu bara yang dinilai terus mencemari lingkungan.
Peristiwa ini berawal dari karamnya tongkang Nautica 22 di perairan Pantai Sukaresik, Kecamatan Sidamulih, pada 16 Juni 2026. Kapal yang mengangkut sekitar 8.109 ton batu bara itu hingga kini belum dievakuasi sepenuhnya. Kondisi tersebut juga telah disampaikan Bupati Pangandaran Citra Pitriyami kepada Kementerian Perhubungan karena dikhawatirkan mengganggu keselamatan pelayaran dan memperbesar risiko pencemaran.
Sebabkan kerugian Ekonomi
HNSI menyebut tumpahan batu bara telah menyebabkan kerugian ekonomi sekaligus mengancam kelestarian ekosistem pesisir. Selain kematian benur, nelayan khawatir hasil tangkapan terus menurun apabila material batu bara tetap mengendap di dasar laut. Jeje juga menyoroti kandungan logam berat yang terdapat dalam batu bara, seperti arsenik dan merkuri, yang dinilai berpotensi membahayakan kehidupan biota laut apabila tidak segera ditangani.
Pengelola budi daya lobster, Aep Saepudin, mengatakan kondisi perairan masih normal sebelum tongkang Nautica 22 karam. Namun, sekitar dua hari setelah insiden, ratusan benih lobster yang dipeliharanya ditemukan mati saat hendak dipindahkan ke dalam bak pemeliharaan. "Dua hari setelah tongkang terdampar, kami mau coba hitung dari luar untuk dimasukkan ke dalam ruangan. Tahu-tahu pas diangkat, semua sudah mati. Mungkin ada sekitar 500 ekor yang mati," ujar Aep dikutip DetikJabar.
Menurutnya, kematian tersebut menimpa benih lobster pasir dan lobster mutiara. Dengan harga benih sekitar Rp10 ribu per ekor, kerugian yang dialami mencapai jutaan rupiah, belum termasuk biaya operasional dan gaji pekerja.
DLH Jabar Pastikan Ada Indikasi Pencemaran
Kekhawatiran nelayan kemudian diperkuat hasil kajian Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Barat. Berdasarkan hasil pemantauan dan uji laboratorium, DLH menemukan indikasi kuat telah terjadi pencemaran air laut akibat tumpahan batu bara dari tongkang tersebut. Kepala DLH Jawa Barat Ai Saadiyah Dwidaningsih menjelaskan partikel halus batu bara membuat air laut menjadi lebih keruh dan menghalangi masuknya cahaya matahari ke dasar perairan.
Kondisi itu menyebabkan kadar oksigen terlarut (dissolved oxygen/DO) turun di bawah ambang normal sehingga dapat mengganggu kelangsungan hidup biota laut serta menekan produktivitas perikanan. Selain itu, pengujian sedimen dasar laut menunjukkan akumulasi sejumlah logam berat, seperti arsenik, kromium, nikel, timbal, kadmium, dan merkuri.
"Kami menyimpulkan telah terjadi pencemaran air laut oleh tumpahan batu bara," ujar Ai. Saat ini, DLH Jawa Barat bersama Kementerian Lingkungan Hidup masih melakukan analisis lanjutan untuk memetakan sebaran polutan serta dampaknya terhadap kondisi oseanografi dan ekosistem laut di wilayah Pangandaran. (RAI)