JAKARTA, AFU.ID — Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penganggur Indonesia pada Mei 2026 mencapai sekitar 7,22 juta orang. Dari jumlah tersebut, sekitar 1,03 juta orang atau 14,31 persen berpendidikan D4, S1, S2 hingga S3. Artinya, klaim bahwa penganggur berlatar pendidikan tinggi telah menembus satu juta orang memang memiliki dasar data.
Namun, angka tersebut perlu dibaca secara tepat. Jumlah 1,03 juta orang bukan hanya lulusan S1, tetapi mencakup D4, S1, S2 dan S3. BPS juga mencatat kelompok tersebut memiliki Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar sekitar 6 persen, sehingga angka 14,31 persen tidak berarti 14,31 persen dari seluruh sarjana Indonesia menganggur.
Data BPS juga menunjukkan lulusan perguruan tinggi bukan kelompok dengan jumlah penganggur terbesar. Berdasarkan pendidikan terakhir, porsi terbesar berasal dari lulusan SMA sebesar 28 persen, disusul SMK 22,39 persen, SD ke bawah 17,18 persen, dan SMP 15,65 persen. Kelompok D4 hingga S3 berada di posisi berikutnya dengan porsi 14,31 persen.
Jurusan Apa yang Paling Banyak Ditemukan?
Daftar jurusan yang ikut ramai dibicarakan berasal dari kajian Labor Market Brief LPEM FEB UI yang mengolah data Sakernas Agustus 2025. Dalam kelompok penganggur berpendidikan minimal S1, lulusan Manajemen memiliki proporsi terbesar sekitar 10,3 persen, disusul Hukum 9,0 persen, Ekonomi 8,7 persen, Pendidikan 7,1 persen, dan Akuntansi 5,1 persen. Kelima bidang studi tersebut secara bersama-sama mencakup sekitar 40 persen penganggur berpendidikan minimal S1 dalam data yang dianalisis LPEM.
Daftar lima bidang studi tersebut adalah:
Manajemen: 10,3 persen
Hukum: 9,0 persen
Ekonomi: 8,7 persen
Pendidikan: 7,1 persen
Akuntansi: 5,1 persen
Ada hal penting yang perlu diperhatikan ketika membaca angka tersebut. Persentase 10,3 persen bukan berarti 10,3 persen dari seluruh lulusan Manajemen menjadi penganggur, melainkan menunjukkan bahwa dari kelompok penganggur berpendidikan minimal S1 yang dianalisis, 10,3 persennya berasal dari bidang Manajemen. LPEM FEB UI secara khusus mengingatkan data ini tidak bisa langsung digunakan untuk menyatakan Manajemen atau jurusan lain memiliki tingkat pengangguran paling tinggi atau prospek kerja paling buruk.
Besarnya proporsi Manajemen juga berkaitan dengan luasnya cakupan dan besarnya basis mahasiswa serta lulusan dari bidang tersebut. Program Manajemen tersedia di banyak perguruan tinggi dan lulusannya bersaing untuk berbagai posisi umum seperti administrasi, pemasaran, perbankan, keuangan hingga sumber daya manusia. Kondisi serupa berlaku untuk Hukum, Ekonomi dan bidang lain yang memiliki jumlah lulusan besar.
Hal lain yang perlu diluruskan, angka 1,03 juta penganggur D4-S3 dari BPS menggunakan data Sakernas Mei 2026, sedangkan daftar jurusan dari LPEM FEB UI berasal dari pengolahan Sakernas Agustus 2025. Keduanya menggambarkan persoalan yang berkaitan, tetapi bukan satu set data pada periode yang sama. Karena itu, daftar persentase jurusan tersebut tidak tepat jika langsung dianggap sebagai rincian dari 1,03 juta penganggur pada Mei 2026.
LPEM FEB UI juga mencatat persoalan lulusan pendidikan tinggi tidak berhenti pada mereka yang belum mendapatkan pekerjaan. Berdasarkan analisis Sakernas 2025, sekitar 8,01 juta lulusan minimal S1 bekerja pada kelompok jabatan yang dikategorikan berada di bawah tingkat pendidikannya atau overeducated. Temuan tersebut menunjukkan tantangan pasar kerja tidak hanya terkait tersedianya pekerjaan, tetapi juga kesesuaian antara pendidikan, keterampilan, dan jenis pekerjaan yang tersedia.
Jadi, klaim bahwa penganggur berpendidikan D4 hingga S3 di Indonesia telah menembus satu juta orang benar berdasarkan data BPS Mei 2026. Sementara daftar Manajemen, Hukum, Ekonomi, Pendidikan dan Akuntansi merupakan bidang studi yang paling banyak ditemukan di antara penganggur minimal S1 berdasarkan analisis LPEM terhadap data Agustus 2025. Angka tersebut tidak otomatis menunjukkan bahwa kelima jurusan itu merupakan jurusan dengan peluang kerja terburuk. (RHU)