JAKARTA, AFU.ID — Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dede Anwar Musadad, menekankan pentingnya pengawasan maksimal pada titik-titik krusial dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dede Anwar Musadad menyampaikan, pengawalan ketat sangat vital untuk memastikan program prioritas nasional tersebut tak memicu masalah kesehatan ke depannya.
“Program MBG merupakan program prioritas nasional, sehingga pelaksanaannya perlu dikawal agar tidak menimbulkan masalah kesehatan,” ungkapnya di Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN ini pun menyoroti sejumlah faktor pendukung yang menjadi kunci keberhasilan program MBG.
Di antaranya adalah ketersediaan air bersih, sanitasi yang memadai, higiene perorangan, dan pengelolaan limbah yang baik.
Dede Anwar Musadad menyatakan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) dan standarisasi fasilitas pengolahan sangat penting untuk menghindari risiko pada setiap tahapan pengelolaan pangan.
“Penguatan kompetensi tenaga sanitasi lingkungan serta standarisasi fasilitas pengolahan pangan menjadi langkah penting agar program MBG berjalan aman dan berkelanjutan,” tuturnya.
Lebih lanjut, Ia menjelaskan bahwa keamanan pangan mempunyai landasan hukum kuat melalui Undang-Undang Pangan yang mewajibkan penyediaan pangan aman, higienis, dan bermutu.
Mengingat Program MBG menjangkau puluhan juta penerima manfaat, kompleksitas rantai distribusi berpotensi meningkatkan potensi kontaminasi yang harus diwaspadai oleh para pemangku kepentingan.
“Produksi pangan dalam jumlah besar dengan proses yang panjang meningkatkan potensi kontaminasi, terutama karena kelompok sasaran seperti anak sekolah termasuk kelompok rentan,” ujar Dede Anwar Musadad.
Sebagai langkah preventif, Ia mengingatkan agar Standar Operasional Prosedur (SOP) pelaksanaan program harus seragam di seluruh wilayah dari hulu hingga hilir.
Menurutnya, potensi kasus keracunan pangan seharusnya dapat diantisipasi dengan manajemen pengawasan yang tepat.
“Keracunan pangan menjadi perhatian serius karena menyangkut kesehatan masyarakat dan seharusnya bisa dicegah,” pungkas Dede Anwar Musadad. (ADR/FAD)