JAKARTA, AFU.ID — Kasus HIV masih terus ditemukan di berbagai daerah di Indonesia. Sayangnya, banyak penderita baru mengetahui dirinya terinfeksi setelah virus berkembang selama bertahun-tahun tanpa menimbulkan keluhan yang berarti. Kondisi ini membuat penanganan kerap terlambat karena infeksi baru terdeteksi ketika sistem kekebalan tubuh sudah melemah.
HIV (Human Immunodeficiency Virus) merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Apabila tidak ditangani, infeksi dapat berkembang menjadi AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome), yaitu tahap ketika daya tahan tubuh rusak sehingga penderitanya lebih rentan terserang berbagai infeksi dan penyakit serius.
HIV menular melalui hubungan seksual tanpa pengaman, penggunaan jarum suntik secara bergantian, transfusi darah yang terkontaminasi, serta dari ibu ke bayi saat kehamilan, persalinan, atau menyusui. Sebaliknya, HIV tidak menular melalui pelukan, berjabat tangan, air liur, keringat, maupun penggunaan alat makan bersama.
Tahap 1: Infeksi HIV Akut (2–4 minggu setelah tertular)
Gejala awal umumnya menyerupai flu, antara lain:
Tahap 2: Latensi Klinis
Pada fase ini, HIV tetap berkembang di dalam tubuh, tetapi aktivitas virus berlangsung lebih lambat sehingga sebagian besar penderita tidak merasakan gejala apa pun. Meski tampak sehat, virus tetap menyerang sistem kekebalan tubuh dan tanpa pengobatan dapat bertahan selama 10 hingga 15 tahun, bahkan lebih cepat pada sebagian orang.
Orang dengan HIV yang rutin menjalani terapi antiretroviral (ARV) dan berhasil menekan jumlah virus hingga tidak terdeteksi (undetectable) dapat hidup sehat seperti masyarakat pada umumnya serta tidak menularkan HIV kepada pasangan melalui hubungan seksual. Sebaliknya, apabila jumlah virus masih terdeteksi dan tidak mendapatkan pengobatan, penularan tetap dapat terjadi meski penderita tidak mengalami gejala.
Tahap 3: AIDS
Apabila HIV tidak ditangani, infeksi dapat berkembang menjadi AIDS dengan gejala seperti:
Penurunan berat badan drastis.
Demam berulang atau keringat malam berlebihan.
Sangat mudah kelelahan.
Pembengkakan kelenjar getah bening.
Diare berkepanjangan.
Luka pada mulut, anus, atau alat kelamin.
Radang paru-paru.
Bercak merah atau keunguan pada kulit.
Gangguan daya ingat, depresi, hingga gangguan saraf.
Karena banyak gejala HIV menyerupai penyakit lain, satu-satunya cara memastikan infeksi adalah dengan menjalani tes HIV. Deteksi dini disertai terapi antiretroviral (ARV) dapat membantu penderita hidup sehat dan mencegah HIV berkembang menjadi AIDS. (ANT/RAI)