JAKARTA, AFU.ID — Bagi penderita asma, inhaler menjadi alat andalan untuk meredakan sesak napas. Alat ini bekerja dengan menghantarkan obat langsung ke paru-paru sehingga efeknya lebih cepat dibandingkan obat minum.
Meski begitu, masih banyak anggapan keliru yang beredar, mulai dari inhaler dianggap menyebabkan ketergantungan hingga diyakini hanya digunakan untuk penderita asma berat. Padahal, menurut Dr. Vikas Mittal, Associate Director Pulmonology and Sleep Max Super Specialty Hospital, India, sebagian besar anggapan tersebut hanyalah mitos. Berikut fakta yang perlu diketahui penderita asma.
1. Mitos: Inhaler membuat ketagihan
Fakta: Inhaler tidak menyebabkan ketergantungan. Asma merupakan penyakit kronis yang belum dapat disembuhkan sehingga penggunaan inhaler bertujuan mengendalikan gejala, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Penggunaannya serupa dengan obat hipertensi atau diabetes yang harus dikonsumsi sesuai anjuran dokter.
2. Mitos: Inhaler mengandung steroid berbahaya
Fakta: Beberapa inhaler memang mengandung steroid, tetapi dalam dosis mikrogram yang jauh lebih kecil dibandingkan steroid oral. Obat juga langsung menuju saluran napas sehingga efek sampingnya lebih minimal. Justru steroid berperan penting mengurangi peradangan yang menjadi penyebab utama asma.
3. Mitos: Obat minum lebih efektif daripada inhaler
Fakta: Inhaler bekerja lebih cepat karena obat langsung masuk ke saluran pernapasan. Cara ini juga membutuhkan dosis lebih kecil sehingga risiko efek samping lebih rendah dibandingkan obat oral.
4. Mitos: Inhaler hanya untuk asma yang sudah parah
Fakta: Inhaler tidak hanya digunakan saat serangan asma terjadi, tetapi juga untuk mengontrol penyakit dalam jangka panjang. Penggunaan rutin sesuai resep dokter membantu mencegah asma berkembang menjadi lebih berat.
5. Mitos: Asma bisa disembuhkan dengan inhaler
Fakta: Asma belum dapat disembuhkan sepenuhnya. Meski gejalanya bisa menghilang dalam waktu tertentu, kondisi tersebut bukan berarti penyakitnya telah sembuh. Karena itu, penggunaan atau penghentian inhaler harus tetap mengikuti anjuran dokter agar risiko kekambuhan dapat dicegah. (RAI)