Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
Produktivitas Modeling Budidaya Lobster Batam Meningkat, Ekonomi Pesisir Ikut Tumbuh
Bagikan:
Penulis: Adriyan Adirizky Rahmat · Reporter: Adriyan Adirizky R
(Foto: KKP RI)
JAKARTA, AFU.ID — Produktivitas Modeling Budidaya Lobster Batam menunjukkan prospek positif sebagai model pengembangan budi daya laut berbasis teknologi dan nilai tambah. Keberhasilan pembesaran lobster dari benih bening lobster (BBL) dinilai membuka peluang peningkatan produksi dalam negeri sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat pesisir. Model tersebut juga menjadi langkah untuk mengoptimalkan potensi sumber daya kelautan tanpa bergantung pada ekspor benih.
Melansir website Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia (KKP RI), Minggu (2/8/2026), kawasan Modeling Budi Daya Lobster di Balai Perikanan Budi Daya Laut (BPBL) Batam diproyeksikan kembali memasuki masa panen pada September 2026. Saat melakukan peninjauan pada Kamis (23/7/2026), Komisi IV DPR RI melihat langsung fasilitas pendederan hingga Keramba Jaring Apung (KJA) yang digunakan untuk pembesaran lobster sejak Oktober tahun lalu. Kawasan tersebut memiliki 116 unit KJA ukuran besar dan 56 unit ukuran sedang yang seluruhnya telah terisi lobster.
Sementara itu, lobster pada KJA ukuran besar telah mencapai bobot rata-rata 150–200 gram per ekor. Pencapaian tersebut menunjukkan efektivitas teknologi pendederan dan sistem pemeliharaan yang diterapkan dalam meningkatkan tingkat keberhasilan pembesaran BBL. Produktivitas yang dihasilkan menjadi indikator penting bagi pengembangan model serupa di daerah lain.
Di sisi lain, keberhasilan program tidak hanya terlihat dari peningkatan produksi lobster, tetapi juga tumbuhnya usaha budi daya kerang sebagai sumber pakan yang melibatkan masyarakat sekitar. Pola tersebut menciptakan rantai usaha baru yang memberikan manfaat ekonomi lebih luas bagi kawasan pesisir. Ketersediaan pakan lokal juga dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan produksi.
“Hal yang juga harus terus diperkuat adalah ketersediaan pakan. Di sini sudah ada kerja sama dengan masyarakat melalui budi daya kerang sebagai sumber pakan lobster,” ujar Anggota Komisi IV DPR RI Dadang M. Naser.
Produktivitas Modeling Budidaya Lobster Batam Didukung Teknologi dan Ekonomi Biru
Selanjutnya, Produktivitas Modeling Budidaya Lobster Batam diperkuat melalui penerapan teknologi budi daya yang dirancang agar dapat direplikasi di berbagai wilayah potensial. Kepulauan Riau dipilih sebagai lokasi percontohan karena memiliki daya dukung lingkungan yang baik, kedekatan dengan pasar, serta ketersediaan pakan melalui pengembangan budi daya kerang bersama masyarakat pesisir. Kawasan seluas tiga hektare tersebut juga dilengkapi fasilitas nursery dan cold room untuk mendukung proses produksi.
Lebih lanjut, teknologi pendederan yang diterapkan mampu menghasilkan benih lobster berukuran lima gram sebelum memasuki tahap pembesaran. Produktivitasnya ditargetkan mencapai 40 kilogram lobster pada setiap lubang KJA berukuran 3x3 meter. Pengembangan tersebut menjadi bagian dari strategi meningkatkan nilai tambah BBL melalui pembesaran hingga ukuran konsumsi yang memiliki nilai ekonomi jauh lebih tinggi.
“Kita ingin potensi BBL tidak berhenti sebagai benih, tetapi dibesarkan menjadi lobster bernilai ekonomi tinggi di dalam negeri. Dengan dukungan regulasi, teknologi, pakan, sumber daya manusia, dan pasar, budi daya lobster dapat menjadi penggerak ekonomi pesisir sekaligus memperkuat produksi perikanan nasional,” tegas Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya Tb Haeru Rahayu.
Pengembangan budi daya lobster yang terintegrasi dengan teknologi, penyediaan pakan, dan pemberdayaan masyarakat menunjukkan bahwa peningkatan produksi tidak hanya menghasilkan nilai tambah komoditas, tetapi juga menciptakan ekosistem usaha yang lebih berkelanjutan. Model ini memperlihatkan potensi ekonomi biru sebagai pendekatan yang mampu menjaga keseimbangan antara produktivitas perikanan, kesejahteraan masyarakat pesisir, dan keberlanjutan sumber daya kelautan. (ADR)