JAKARTA, AFU.ID - Fenomena baru pelan-pelan muncul di masyarakat: bukan lagi “makan tabungan”, tapi “makan utang”. Ekonom INDEF, Awalil Rizky, menyebut kondisi ini sebagai sinyal keras bahwa tekanan ekonomi di level bawah makin nyata.
Dalam ulasannya, Awalil menyoroti lonjakan penggunaan pinjaman online (pinjol) dan layanan buy now pay later (BNPL). Akses yang mudah, cepat, dan instan membuat dua instrumen ini jadi jalan pintas untuk menutup kebutuhan sehari-hari.
Data OJK menunjukkan utang pinjol sudah tembus sekitar Rp110 triliun per Maret 2026. Dalam sebulan saja naik sekitar Rp10 triliun. Sementara BNPL tumbuh jauh lebih agresif, mendekati dua kali lipat dalam setahun dan mencapai puluhan triliun rupiah.
Masalahnya bukan sekadar angka naik. Laju kenaikannya ikut melonjak.
“Artinya masyarakat makin bergantung pada utang, dan itu bukan tanda baik,” kata Awalil.
Ekonom Tauhid Ahmad yang dikutip dalam pembahasan itu menegaskan, sebagian besar pinjaman digunakan untuk konsumsi, bukan usaha. Ini yang jadi persoalan. Utang bukan dipakai menghasilkan uang, tapi untuk bertahan hidup.
Skemanya pun memberatkan. Tidak ada masa jeda. Begitu pinjam, langsung bayar cicilan plus bunga.
Dampaknya mulai terasa. Tabungan masyarakat, khususnya di bawah Rp100 juta, tumbuh melambat. Ini dibaca sebagai tanda bahwa cadangan uang masyarakat menipis.
Orang-orang yang dulu bertahan dengan tabungan, sekarang mulai beralih ke utang.
Fenomena “gali lubang tutup lubang” makin umum. Satu utang ditutup utang lain. Bahkan tidak sedikit yang memegang beberapa pinjaman sekaligus—pinjol, BNPL, hingga gadai barang.
Di sisi lain, kondisi ini justru ikut mendorong pertumbuhan ekonomi. Konsumsi rumah tangga naik, dan itu membuat angka pertumbuhan terlihat solid di kisaran 5,5% hingga 5,6%.
Tapi Awalil mengingatkan, angka itu tidak boleh dilihat mentah.
“Pertumbuhan itu tidak menjelaskan sumbernya. Kalau didorong utang, itu berarti ada masalah di depan,” tegasnya.
Bukan hanya masyarakat, pemerintah juga menghadapi pola serupa. Belanja negara meningkat, tapi ditopang utang karena pendapatan belum cukup.
Artinya, baik rumah tangga maupun negara sama-sama mengandalkan utang untuk menjaga ritme ekonomi.
Awalil menyebut kondisi ini masih bisa dimaklumi dalam batas tertentu. Tapi jika terus berlanjut, risikonya besar.
Karena itu, ia menilai pertumbuhan ekonomi tetap perlu disyukuri, tapi tidak perlu diglorifikasi. Yang lebih penting adalah membaca sinyal bahayanya sejak sekarang.
“Jangan sampai kita baru sadar saat batas kemampuan berutang sudah habis,” tutupnya. (*)