JAKARTA, AFU.ID — Inflasi Indonesia pada Juni 2026 mencapai 3,34 persen secara tahunan, naik dari 3,08 persen pada bulan sebelumnya. Angka tersebut masih berada dalam sasaran Bank Indonesia sebesar 2,5 persen plus-minus 1 persen, tetapi hanya terpaut 0,16 poin persentase dari batas atas target 3,5 persen. Pada saat bersamaan, nilai tukar rupiah masih berada di atas Rp18.000 per dolar Amerika Serikat. Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate tercatat Rp18.069 per dolar AS pada Jumat (10/07/26), dibandingkan Rp17.899 pada akhir Juni.
Badan Pusat Statistik mencatat inflasi bulanan Juni sebesar 0,44 persen, sedangkan inflasi sepanjang tahun berjalan mencapai 1,79 persen. Indeks Harga Konsumen berada pada level 111,89. Inflasi inti tercatat 2,76 persen secara tahunan, meningkat dari 2,59 persen pada Mei. Bank Indonesia menyebut perkembangan inflasi inti terutama dipengaruhi tingginya harga komoditas global, sementara ekspektasi inflasi masih terjaga.
Tekanan paling besar secara bulanan datang dari kelompok harga yang diatur pemerintah. Kelompok tersebut mengalami inflasi 1,41 persen, meningkat dari 0,52 persen pada bulan sebelumnya. Bank Indonesia menyebut bensin dan tarif angkutan udara menjadi penyumbang utama. Kenaikan itu terjadi seiring penyesuaian harga bahan bakar minyak nonsubsidi dan avtur akibat tingginya harga energi global.
Sementara itu, inflasi pangan bergejolak secara bulanan tercatat 0,14 persen, lebih rendah dari 0,22 persen pada Mei. Tekanan terutama berasal dari bawang merah, bawang putih, dan beras akibat penurunan produksi di daerah sentra, kenaikan biaya transportasi, serta berakhirnya musim panen raya.
Secara tahunan, inflasi pangan bergejolak turun dari 6,24 persen menjadi 5,58 persen. Kondisi tersebut menunjukkan kenaikan inflasi Juni tidak hanya berasal dari harga pangan, tetapi juga dari kelompok energi dan transportasi. Tekanan harga juga mulai terlihat dalam ekspektasi pelaku ritel. Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia mencatat Indeks Ekspektasi Harga Umum untuk Agustus sebesar 178,0, meningkat dari 175,8 pada Juli, terutama didorong kenaikan harga bahan baku.
Meski tekanan harga meningkat, penjualan eceran diperkirakan tetap terjaga. Indeks Penjualan Riil Juni diproyeksikan sebesar 221,6, dengan penurunan bulanan 0,8 persen, lebih kecil dibandingkan penurunan 1,5 persen pada Mei. Secara tahunan, penjualan masih ditopang kelompok suku cadang dan aksesori serta perlengkapan rumah tangga lainnya. Keyakinan konsumen juga tetap berada pada zona optimistis dengan indeks 117,8, meskipun penilaian terhadap kondisi ekonomi saat ini dan ekspektasi konsumen menurun dibandingkan bulan sebelumnya.
Bank Indonesia memperkirakan inflasi tetap berada dalam sasaran 2,5 persen plus-minus 1 persen sepanjang 2026 dan 2027. Namun, perkembangan harga energi global, bahan baku, pangan, dan nilai tukar rupiah menjadi indikator yang akan menentukan arah tekanan harga pada bulan-bulan berikutnya. (RHU)