Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
Profil PM Inggris Baru Andy Burnham, Rekam Jejak, dan Arah Kebijakan Politik Luar Negeri
Bagikan:
Penulis: Erik Erfinanto
Ringkasan Berita
Andy Burnham resmi dilantik sebagai Perdana Menteri Inggris pada 20 Juli 2026, menggantikan Keir Starmer, dan menjadi pemimpin ketujuh dalam satu dekade terakhir. Sebelumnya, Burnham dikenal sebagai Wali Kota Greater Manchester dengan fokus pada pembangunan transportasi publik dan perumahan. Dalam pidato pertamanya, ia menegaskan komitmennya untuk mengatasi isu biaya hidup, tunawisma, dan mengembangkan strategi pembangunan nasional, sambil tetap mendukung Ukraina dalam kebijakan luar negeri dan memperkuat desentralisasi kewenangan ke pemerintah daerah.
Perdana Menteri Inggris Andy Burnham. (FOTO AFUID)
Jakarta, AFU.ID – Andy Burnham resmi menjadi Perdana Menteri Inggris pada Senin 20 Juli 2026 setelah ditunjuk Raja Charles III untuk membentuk pemerintahan baru menyusul pengunduran diri Keir Starmer. Politikus Partai Buruh (Labour Party) itu menjadi perdana menteri ketujuh Inggris dalam kurun waktu satu dekade, menandai babak baru politik Britania Raya.
Burnham bukan sosok baru di panggung politik Inggris. Pria berusia 56 tahun itu dikenal luas sebagai mantan Wali Kota Greater Manchester yang berhasil membangun reputasi sebagai pemimpin daerah dengan fokus pada transportasi publik, perumahan, dan pemerataan pembangunan di luar London. Karena kiprahnya tersebut, ia mendapat julukan "King of the North" atau "Raja dari Utara".
Andy Burnham lahir di Liverpool, Inggris, pada 7 Januari 1970. Ia menempuh pendidikan di St Cuthbert's High School sebelum melanjutkan studi Bahasa Inggris di University of Cambridge. Karier politiknya dimulai ketika terpilih sebagai anggota House of Commons mewakili daerah pemilihan Leigh pada 2001. Selama pemerintahan Partai Buruh di bawah Tony Blair dan Gordon Brown, Burnham dipercaya menduduki sejumlah jabatan menteri.
Karier Burnham berkembang pesat di pemerintahan. Pada periode 2007–2010, ia pernah menjabat sebagai Chief Secretary to the Treasury, Menteri Kebudayaan, Media dan Olahraga, serta Menteri Kesehatan. Setelah Partai Buruh berada di luar pemerintahan, Burnham menjadi juru bicara utama partai untuk sejumlah bidang strategis, termasuk kesehatan, pendidikan, dan dalam negeri. Ia juga beberapa kali mengikuti pemilihan ketua Partai Buruh sebelum akhirnya terpilih sebagai pemimpin partai pada Juli 2026.
Pada 2017, Burnham meninggalkan parlemen untuk maju sebagai Wali Kota Greater Manchester. Ia kembali memenangkan pemilihan pada 2021 dan 2024. Selama memimpin Greater Manchester, Burnham mendorong pengambilalihan kembali layanan bus ke dalam kendali publik, memperluas pembangunan perumahan, dan memperjuangkan desentralisasi kewenangan dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah. Pemerintah Inggris juga mencatat Manchester menjadi salah satu kawasan metropolitan dengan pertumbuhan tercepat selama masa kepemimpinannya.
Pada pemilu 2026, Burnham kembali ke House of Commons sebagai anggota parlemen dari daerah pemilihan Makerfield sebelum terpilih menjadi pemimpin Partai Buruh dan akhirnya diangkat menjadi perdana menteri. Dalam pidato pertamanya di Downing Street, Burnham menegaskan pemerintahannya akan berfokus pada penyelesaian persoalan biaya hidup, pengentasan tunawisma, serta penyusunan strategi pembangunan nasional jangka panjang selama 10 tahun.
Tantangan dan Agenda Politik
Burnham mengambil alih pemerintahan di tengah tantangan ekonomi dan politik Inggris yang penuh isu. Tingginya biaya hidup warga menjadi isu utama yang harus ia selesaikan di tengah kewajibannya menjaga pertumbuhan ekonomi. Dia juga berjanji akan melakukan perbaikan pada persoalan layanan publik, krisis perumahan dan menjaga stabilitas fiskal. Untuk kebijakan luar negeri, Burnham menegaskan komitmen Inggris untuk tetap mendukung Ukraina dan menjaga hubungan erat dengan sekutu-sekutu Barat.
Burnhan telah melakukan komunikasi awal dengan sejumlah pemimpin dunia, termasuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. Sebagai pemimpin baru Partai Buruh, dia juga menghadapi tantangan menyatukan berbagai faksi di internal partai sekaligus membendung meningkatnya dukungan terhadap partai populis Reform UK. Dalam pidato kemenangannya sebagai pemimpin Labour, ia menyebut pemerintahannya akan menjadi kesempatan terakhir bagi partai untuk membuktikan mampu membawa perubahan bagi masyarakat Inggris.
Salah satu janji yang paling disorot soal mengentaskan kemiskinan dan problem perumahan, adalah menghapus praktik tidur di jalan. Ia menilai persoalan tersebut harus menjadi prioritas nasional dan menunjuk Angela Rayner sebagai Menteri Perumahan untuk mempercepat pembangunan rumah dewan. Untuk urusan politik dalam negeri, Burnham ingin memperluas kewenangan pemerintah daerah, sejalan dengan kebijakan yang ia dorong selama menjadi Wali Kota Greater Manchester. Ia menilai pertumbuhan ekonomi Inggris tidak boleh hanya terpusat di London, tetapi juga harus menjangkau kota-kota lain.
Untuk menyelesaikan janji politiknya itu, Burnham menunjuk John Healey ditunjuk sebagai Menteri Keuangan (Chancellor), Ed Miliband menjadi Menteri Luar Negeri, Wes Streeting menjabat Menteri Pertahanan, Shabana Mahmood tetap memimpin Kementerian Dalam Negeri, Yvette Cooper menjadi Menteri Kesehatan, Jonathan Reynolds menjabat Menteri Bisnis, dan Angela Rayner kembali dipercaya sebagai Menteri Perumahan. (EER)