JAKARTA, AFU.ID - Di tengah badai ekonomi yang mengancam industri, sektor manufaktur Indonesia ternyata masih mampu bertahan. Bahkan Badan Pusat Statistik mengungkapkan, sektor manufaktur masih berada di zona ekspansi pada Triwulan I-2026 ini.
BPS mencatat industri pengolahan tumbuh 5,04 persen secara tahunan pada Triwulan I-2026 dan menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi nasional. “Di triwulan I itu Indeks Keyakinan Bisnis Manufaktur kita di dalam zona ekspansi,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti, di Jakarta, Selasa (26/5/2026).
Amalia memaparkan, pertumbuhan industri pengolahan didukung peningkatan aktivitas produksi di sejumlah subsektor manufaktur, terutama yang berkaitan dengan investasi dan permintaan domestik.
Ia menjelaskan, subsektor industri mesin dan perlengkapan tumbuh 21,93 persen secara tahunan pada Triwulan I-2026. Selain itu, industri komputer, barang elektronik, dan optik tumbuh 10,35 persen, sedangkan industri barang galian bukan logam tumbuh 9,12 persen.
Amalia mengatakan, pertumbuhan sejumlah subsektor tersebut sejalan dengan meningkatnya permintaan barang modal untuk mendukung aktivitas produksi dan ekspansi usaha. “Impor barang modal itu tumbuhnya 14,27 persen,” ujarnya.
BPS juga mencatat Indeks Keyakinan Bisnis Manufaktur (IKBM) berada pada level 51,37 pada Triwulan I-2026 atau masih berada di zona ekspansi. Amalia menjelaskan, indeks di atas level 50 menunjukkan mayoritas pelaku usaha manufaktur masih menilai kondisi bisnis bertumbuh dibandingkan triwulan sebelumnya.
Ia mengatakan, BPS menyusun IKBM menggunakan sekitar 8.561 sampel perusahaan manufaktur untuk melihat kondisi industri secara lebih luas dan detail. Meski demikian, Amalia mengakui tidak seluruh subsektor manufaktur mengalami pertumbuhan positif pada Triwulan I-2026.
BPS mencatat komponen waktu pengiriman dalam IKBM masih berada pada fase kontraksi karena pengiriman barang selama Ramadan dan Idul Fitri relatif lebih lambat dibandingkan periode normal.
“Karena ternyata waktu pengiriman selama Ramadhan dan Lebaran itu relatif lebih lama,” ungkap Amalia.
Selain itu, beberapa subsektor yang masih mengalami tekanan antara lain industri alat angkut yang terkontraksi 5,4 persen serta industri pengolahan tembakau yang tumbuh negatif 2,8 persen pada Triwulan I-2026.
Menurut Amalia, kondisi tersebut menunjukkan pemulihan industri manufaktur belum merata di seluruh subsektor sehingga perlu dibaca secara lebih rinci.
Namun, ia menilai sektor manufaktur nasional secara garis besar masih memiliki daya tahan yang cukup baik karena tetap berada di zona ekspansi dan ditopang permintaan domestik serta aktivitas investasi.
Data BPS menunjukkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen secara tahunan pada Triwulan I-2026, ditopang konsumsi rumah tangga, investasi, dan percepatan belanja pemerintah pada awal tahun.
Amalia menilai data manufaktur tersebut menunjukkan pentingnya membaca kondisi industri secara lebih granular agar kebijakan penguatan sektor riil dapat diarahkan pada subsektor yang tumbuh maupun subsektor yang masih membutuhkan dukungan
(ANT/MAR)