JAKARTA, AFU.ID — Rencana kenaikan anggaran Kementerian Pertanian hampir dua kali lipat pada 2027 menjadi ujian bagi target swasembada pangan pemerintah. Tambahan dana itu dinilai harus benar-benar diarahkan untuk memperkuat produksi dalam negeri agar tidak berhenti sebagai belanja besar tanpa dampak pada ketergantungan impor.
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti menilai tambahan anggaran Kementan perlu difokuskan pada peningkatan produksi pangan domestik.
“Menurut saya tambahan dana untuk peningkatan produksi pertanian harus dilakukan guna mencapai swasembada pangan,” kata Esther di Jakarta, Senin (15/6/2026).
Komisi IV DPR RI sebelumnya menyatakan dukungan terhadap penguatan anggaran Kementan Tahun Anggaran 2027 dari Rp23,23 triliun menjadi Rp45,65 triliun. Kenaikan tersebut membuat pagu anggaran Kementan hampir dua kali lipat dibanding usulan sebelumnya.
Tambahan dana itu diarahkan untuk program lahan dan irigasi, prasarana dan sarana pertanian, peningkatan produksi komoditas pertanian dan peternakan, penyuluhan, penguatan sumber daya manusia, modernisasi pertanian, serta dukungan manajemen.
Namun, Esther mengingatkan bahwa besarnya anggaran tidak otomatis menjamin peningkatan produksi. Pemerintah perlu memastikan dana benar-benar menyentuh persoalan utama yang selama ini menghambat produktivitas pertanian.
“Tambahan dana untuk penguatan program-program, bukan untuk subsidi bahan pangan impor,” ujarnya.
Menurut Esther, persoalan pangan Indonesia tidak hanya berada pada aspek produksi. Ada tiga tantangan utama yang perlu dibenahi secara bersamaan, yakni produksi, distribusi, dan kelembagaan.
“Tantangannya ada tiga, produksi, distribusi, dan kelembagaan,” katanya.
Ia menilai tambahan anggaran berpotensi tidak efektif apabila hanya digunakan untuk proyek fisik tanpa memperbaiki tata kelola sektor pertanian secara menyeluruh. Pemerintah perlu membangun ekosistem yang mendukung petani, mulai dari akses pembiayaan, teknologi, pasar, hingga kepastian regulasi.
Esther menyarankan pemerintah menjalankan strategi yang lebih komprehensif melalui empat pilar utama. Pilar tersebut mencakup lingkungan yang mendukung, karakteristik pasar yang menguntungkan, optimalisasi produksi, serta penciptaan sumber penghidupan alternatif bagi petani dan peternak.
Menurut dia, petani kecil masih membutuhkan akses yang lebih baik terhadap pelatihan, bantuan teknis, pembiayaan, kredit, teknologi, dan informasi pasar. Akses itu penting untuk meningkatkan produktivitas, kualitas hasil panen, volume produksi, serta daya tawar petani.
Di sisi lain, pemerintah perlu memastikan ketersediaan benih unggul, pupuk, teknologi, dan layanan penyuluhan yang memadai. Tanpa pembenahan di tingkat hulu, kenaikan anggaran berisiko tidak langsung terasa bagi petani dan peternak.
Kritik terhadap efektivitas anggaran menjadi relevan karena Indonesia masih bergantung pada impor sejumlah komoditas pangan penting. Kementerian Pertanian sebelumnya menyebut sekitar 95 persen kebutuhan bawang putih nasional masih dipenuhi dari luar negeri.
Ketergantungan serupa juga terjadi pada kedelai yang menjadi bahan baku utama industri tahu dan tempe. Kondisi ini menunjukkan bahwa agenda swasembada pangan masih menghadapi persoalan struktural yang belum selesai.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan pemerintah tengah memperkuat riset pertanian melalui penempatan sekitar 1.000 peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian yang tersebar di berbagai daerah.
Kenaikan anggaran Kementan pada akhirnya akan diuji dari hasil konkret di lapangan. Ukurannya bukan hanya besarnya dana yang disetujui DPR, tetapi apakah anggaran Rp45,65 triliun itu mampu menaikkan produksi, memperbaiki distribusi, memperkuat kelembagaan petani, dan menurunkan ketergantungan Indonesia terhadap impor pangan.
Tanpa capaian tersebut, tambahan anggaran hanya akan menjadi belanja negara yang sulit menjawab pertanyaan paling mendasar: mengapa Indonesia masih mengimpor pangan dalam jumlah besar ketika dana pertanian terus bertambah. (RHU)