Jakarta, AFU.ID - Nagara Institute menerbitkan buku berjudul “Demokrasi Digital: Viralitas, Algoritma dan Gen Z” yang ditulis oleh sahabat masa kecil saya di Keera, Wajo, Andi Ilham Paulangi, alumni Unhas. Bekerjasama dgn Komdigi, kami launching bukunya sekaligus membedahnya di IPB Bogor, Dramaga, Rabu (17/6/2026). Kegiatan ini kami rancang sebulan sebelumnya, bersama BEM IPB. Pembicara, rencananya, salah satunya Meutya Viada Hafid, Menkomdigi, sesuai persetujuan Bu Menteri sendiri.
Saya datang tepat sebelum acara. Laporan dari tim saya yang sejak pagi hari menginfokan semua sudah siap. Sambil menunggu di ruang transit, tiba-tiba seorang staf membisikiku pimpinan BEM IPB menolak melanjutkan acara dan menahan mahasiswa peserta masuk ke ruang acara karena mendapat info Menteri Meutya Hafid tak hadir.
Benar. Menteri asal Golkar ini mendadak ada acara lain seperti biasanya pejabat. Tapi telah mengirim Direktur Digital, Farida Dewi. Kaget saya. Juga Wakil Rektor I IPB yang ditunjuk langsung Rektor yang tak bisa hadir karena menemani istri yang baru saja menjalani operasi. Proses negosiasi agak alot. Namun, akhirnya saya bisa meyakinkan anak-anak muda, para pemimpin mahasiswa ini, bahwa seluruh unek-unek mereka saya pastikan akan sampai ke tangan Menteri. Sebaliknya, saya minta penjaminan tak ada gangguan acara seperti yang terjadi di UGM beberapa hari sebelumnya.
Sebelumnya, acara juga hampir batal karena adik-adik mahasiswa ini merasa kecewa seorang narasumber yang telah mereka hubungi tak bisa kami hadirkan atas berbagai pertimbangan. Saya harus sedikit keras untuk meyakinkan adik-adik pengurus BEM ini bahwa otoritas narsum tetap di tangan kami meski nama itu juga telah didiskusikan sebelumnya. Pokoknya ada pertimbangan tersendiri. Toh Presiden BEM dan Rektor akan jadi pembicara juga. Clear. Mereka akhirnya menerima.
Meski khawatir, acara yang kurang lebih dua jam berlangsung lancar tanpa hambatan. Menteri Meutya Hafied mengirim video khusus ucapan selamat untuk kegiatan ini sebagai sapaan untuk para mahasiswa yang tayangkan di layar besar. Para pembicara —termasuk Presiden BEM itu dan Warek I, memaparkan berbagai hal menarik.
Tak ada peserta di balkon teater yang meninggalkan tempat. Empat penanya dari pihak mahasiswa mengajukan argumen dan pertanyaan yang sangat tajam namun dalam nada yang sangat terukur. Tak ada teriakan apalagi kemarahan. Cara bertanya dan berbicara mereka tak terbata-bata atau bahkan kebingungan seperti mereka yang menyebut diri mahasiswa dan mendapat kehormatan diterima Wapres Gibran di Istana Wakil Presiden.
Salah satu gugatan peserta mereka adalah ‘Apakah pemerintah via Komdigi tahu tentang buzzer yang merusak ruang publik bahkan kualitas demokrasi dan kenapa tidak diberantas?’. Anak-anak muda ini hebat sebab mereka ternyata menyiapkan diri dengan sebuah riset dan gugatan tertulis tentang ‘Kedaulatan Digital’ yang harus disegerakan penanganannya oleh pemerintah.
Kuminta mereka menyerahkan langsung ke Direktur Farida Dewi yang sekaligus memberikan jaminan dokumen riset mereka itu sampai ke tangan menteri. Acara berakhir sesuai agenda. Kami foto-foto bersama dalam banyak pose seru.Tak ada kemarahan, cacian apalagi ancaman.
Saya semakin paham bahwa benar adanya terpendam ‘kemarahan’ anak-anak muda pada berbagai hal. Mereka marah dan frustasi karena merasa KITA tak cukup memberi respon yang layak. Namun, pada kasus IPB kemarin itu, saya bertemu dengan anak-anak muda yang mampu mengelola emosi dalam balutan intelektual yang elegan.
Mereka membuat riset dan, ini yang paling penting, mereka masih bersedia memberi kepercayaan pada yang mereka anggap layak untuk dipercaya dan atau diajak bernegosiasi dan berbicara. Saya merasakan itu kemarin. Terima kasih adik-adik IPB Bogor. Anda membuat perbedaan.
--
Penulis: Akbar Faizal