Kedewasaan Intelektual BEM KM IPB
Meski begitu, Akbar Faizal memberikan apresiasi besar kepada sikap kedewasaan intelektual pengurus BEM KM IPB. Sebab para mahasiswa enggan terpancing amarah, layaknya apa yang barusan terjadi di Universitas Gadjah Mada (UGM).
Sebagai informasi, ratusan mahasiswa UGM membubarkan paksa forum diskusi di Sleman, Senin (15/6/2026) malam. Massa merangsek ke panggung hingga melakukan pelemparan ketika mengejar mobil Nusron Wahid (Menteri ATR/BPN RI), Sudaryono (Wakil Menteri Pertanian RI), dan Budiman Sudjatmiko (Kepala BP Taskin).
“Saya bisa meyakinkan para pemimpin mahasiswa, seluruh unek-uneknya akan pasti sampai ke tangan Menteri Meutya Hafid. Meskipun, saya harus sedikit keras untuk meyakinkan para adik-adik mahasiswa ini. Sebaliknya, saya minta penjaminan tak ada gangguan acara seperti yang terjadi di UGM beberapa hari sebelumnya,” tutur Akbar Faizal.
Alih-alih merusak fasilitas umum, Kabinet Mercusuar BEM KM IPB Periode 2025-2026 justru menyusun dokumen riset yang terukur. Langkah elegan itu terwujud melalui penyerahan naskah gugatan tertulis langsung kepada Direktur Ekosistem Media Kementerian Komdigi RI, Farida Dewi Maharani.
Melalui utusan kementerian tersebut, perwakilan mahasiswa mencecar kegagalan pemerintah dalam mengontrol aktor siber jahat yang merusak ruang publik. Pertanyaan kritis dilayangkan dengan nada tenang tanpa disertai teriakan atau kemarahan fisik di dalam ruang teater.
Kegiatan benar-benar kondusif, tak ada peserta yang meninggalkan ruangan dan semua fokus berdiskusi dengan argumen tajam. Potret yang jauh berbeda dari sebuah ruang intelektual di UGM beberapa hari lalu.
“Cara bertanya dan berbicara peserta tak terbata-bata atau bahkan kebingungan. Tidak seperti mereka yang menyebut dirinya mahasiswa dan mendapat kehormatan diterima Wapres Gibran di Istana Wakil Presiden,” kata Akbar Faizal.
Penyerahan simbolis dokumen riset kedaulatan digital tersebut dipimpin langsung oleh Presiden Mahasiswa BEM KM IPB, yakni M Abdan Rofi. Keterlibatan aktif itu membuktikan, penyampaian kritik ilmiah jauh lebih efektif menekan pembuat kebijakan ketimbang aksi pengusiran sepihak.
“Apakah pemerintah via Komdigi tahu tentang buzzer yang merusak ruang publik bahkan kualitas demokrasi dan kenapa tidak diberantas?,” ujar Akbar menirukan gugatan tersebut.
Kedewasaan emosional mahasiswa IPB tersebut memberikan standar baru bagi gerakan moral mahasiswa dalam mengevaluasi kebijakan negara. Nagara Institute mengapresiasi kemampuan taktis para aktivis muda yang mampu menyalurkan rasa frustrasinya melalui koridor ilmiah yang bermartabat.
“Saya bertemu dengan anak-anak muda yang mampu mengelola emosi dalam balutan intelektual yang elegan. Mereka membuat riset dan masih bersedia memberi kepercayaan pada yang mereka anggap layak untuk dipercaya,” pungkas Akbar Faizal.
Perbandingan antara insiden anarki di UGM dan diplomasi ilmiah di IPB menunjukkan efektivitas gerakan mahasiswa tidak diukur dari volume teriakan, melainkan ketajaman basis data. Ke depan, pemerintah wajib merespons model gugatan intelektual itu secara serius agar mahasiswa tak kehilangan kepercayaan dan beralih ke jalur jalanan yang destruktif. (ADR)































