AFU.id

B50 Pangkas Impor Solar, Pemerintah Target Bangun Hingga 50 Pabrik Bioetanol

Bagikan:

Penulis: Adriyan Adirizky RahmatReporter: Adriyan Adirizky R

Ringkasan Berita

Pemerintah Indonesia mengimplementasikan Biodiesel 50% (B50) untuk mengurangi ketergantungan pada impor solar dan mempercepat transisi ke bioetanol sebagai energi alternatif, dengan rencana pembangunan hingga 50 pabrik bioetanol untuk mencapai pencampuran BBM E20. Presiden Prabowo Subianto menekankan pentingnya pengembangan energi terbarukan berbasis sumber daya domestik dan mengakui kemajuan sektor energi dan industri nasional, termasuk kendaraan listrik dan industri pertahanan, sebagai langkah strategis dalam memperkuat kemandirian energi dan daya saing global.

B50 Pangkas Impor Solar, Pemerintah Target Bangun Hingga 50 Pabrik Bioetanol
Presiden RI, Prabowo Subianto (tengah) menghadiri Panen Raya Serentak di Lanud Abdulrachman Saleh, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Jumat (17/7/2026). (Foto: BPMI Setpres/Cahyo)

B50 Jadi Dasar Percepatan Bioetanol

Selanjutnya, Presiden Prabowo mengungkapkan rencana pemerintahannya untuk mempercepat pembangunan industri bioetanol nasional. Tujuannya, untuk meningkatkan pencampuran bahan bakar berbasis etanol hingga mencapai E20 alias BBM hasil campuran 20% bioetanol dan 80% bensin konvensional. Saat ini, Indonesia baru mempunyai satu pabrik bioetanol yang kapasitas produksinya belum cukup memenuhi target.

“Para petugas mengatakan, kita bisa sampai E20, tapi butuh pabrik. Saya putuskan, kita akan bangun minimal 30 pabrik, kalau perlu sampai 50. India sudah E20, Brasil sudah E100, masa Indonesia tidak bisa,” tutur Prabowo Subianto.

Selain sektor energi, Kepala Negara menyatakan Pemerintah RI sedang memperkuat industri nasional melalui pengembangan kendaraan listrik produksi dalam negeri. Ia menyebut, Indonesia akan mempunyai sepeda motor dan mobil buatan anak bangsa sebagai bagian dari penguatan ekosistem industri manufaktur nasional. “Kita akan punya motor dan mobil buatan anak-anak Indonesia,” ujar Presiden Prabowo Subianto.

Di sisi lain, Prabowo menilai kemajuan industri pertahanan nasional turut menunjukkan kemampuan manufaktur dalam negeri yang semakin kompetitif. Ia mencontohkan keberhasilan prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) meraih 12 kemenangan berturut-turut dalam kompetisi menembak internasional menggunakan senjata produksi nasional. “Itu pakai senjata buatan anak-anak Indonesia, senapan serbu dari kita, pistol dari kita,” paparnya.

Rangkaian capaian tersebut memperlihatkan keterkaitan antara penguatan sektor energi, industri, dan pertahanan sebagai fondasi pembangunan nasional. Jika target pembangunan 30 hingga 50 pabrik bioetanol dapat terealisasi, Indonesia pun berpeluang mempercepat kemandirian energi. Bahkan, memperbesar nilai tambah sumber daya alam (SDA) dan memperkuat daya saing industri domestik di pasar global. (ADR)

Berita Terkait

Pilihan Redaksi