JAKARTA, AFU.ID – Pemerintah Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, memastikan produksi padi pada musim tanam 2026 tetap berada di tren positif. Dengan catatan surplus beras yang mencapai hampir 50 ribu ton, Tulungagung sukses memperkuat posisinya sebagai salah satu daerah penyangga ketahanan pangan utama di Jawa Timur.
Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Tulungagung, Ahmad Baharudin, menegaskan bahwa capaian ini menjadi bukti sektor pertanian di wilayahnya tetap tangguh dan produktif meski dihantam berbagai tantangan di lapangan.
"Tahun ini kita kembali surplus. Bahkan jika ditambah surplus tahun 2025 yang mencapai 94.638,08 ton, maka cadangan pangan daerah dalam kondisi sangat aman," ujar Ahmad Baharudin saat menghadiri tradisi Labuh Massal di Desa Dukuh, Tulungagung, Senin (1/6/2026).
Berdasarkan data dari pemerintah daerah, hingga April 2026 akumulasi produksi padi di Tulungagung telah menyentuh angka 138.688,59 ton gabah kering panen. Hasil tersebut diperoleh dari total luas lahan pertanian yang digarap sekitar 19.841 hektare.
Dari total produksi pangan tersebut, surplus bersih beras yang berhasil dihasilkan diperkirakan mencapai 49.985,50 ton.
Menurut Ahmad Baharudin, angka surplus yang tinggi ini menjadi indikator penting bagi ketahanan pangan daerah. Capaian ini juga merefleksikan efektivitas dari berbagai program pendampingan pertanian yang selama ini digulirkan oleh pemerintah kepada para petani.
Salah satu indikator keberhasilannya adalah mulai teratasinya masalah kelangkaan pupuk yang sebelumnya kerap menjadi batu sandungan bagi produktivitas sela musim tanam.
Kendati mencetak rapor hijau, Pemkab Tulungagung mengakui bahwa peningkatan produktivitas ke depan masih memerlukan intervensi kuat pada sektor sarana dan prasarana. Perbaikan jaringan irigasi serta modernisasi alat dan mesin pertanian (alsintan) mutlak diperlukan untuk menekan biaya produksi petani.
Harapan senada juga diungkapkan oleh Kepala Desa Dukuh, Cuk Sindu Wiyoso. Ia meminta pemerintah daerah tidak kendur dalam menyalurkan bantuan fasilitas pengairan dan mekanisasi pertanian.
"Mayoritas warga menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Karena itu kami berharap kebutuhan air dan alat pertanian seperti hand tracktor dapat terus mendapat perhatian," kata Cuk Sindu Wiyoso.
Merespons aspirasi tersebut, Pemkab Tulungagung menegaskan tetap membuka lebar peluang bagi seluruh kelompok tani untuk mengajukan bantuan alsintan secara resmi sesuai mekanisme yang berlaku. Langkah ini dinilai krusial demi mendongkrak efisiensi usaha tani dan menjaga keberlanjutan produksi pangan secara jangka panjang.
Acara yang dihadiri oleh Plt Bupati di Desa Dukuh tersebut merupakan bagian dari tradisi Labuh Massal, sebuah warisan budaya agraris lokal yang digelar rutin oleh masyarakat setempat.
Selain sebagai representasi rasa syukur atas melimpahnya hasil panen, tradisi tahunan ini menjadi pengingat kolektif bagi warga dan pemerintah akan pentingnya menjaga kelestarian sektor pertanian, yang hingga kini tetap menjadi tulang punggung perekonomian pedesaan di Kabupaten Tulungagung.
(ANT/MAR)