JAKARTA, AFU.ID – Kabupaten Lebak, Banten, menjadi salah satu daerah penyangga pangan untuk kawasan Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi atau Jabotabek. Produksi beras daerah tersebut pada 2025 mencapai sekitar 380 ribu ton dan melampaui kebutuhan konsumsi masyarakat setempat. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak Rahmat Yuniar mengatakan, produksi pangan di wilayahnya terus dijaga melalui pola tanam dua kali dalam setahun.
Pemerintah daerah juga mendorong petani segera melakukan percepatan tanam setelah panen agar pasokan beras tetap berkelanjutan. "Kita minta petani jika musim panen maka kembali melakukan percepatan tanam guna keberlanjutan produksi pangan," kata Rahmat di Lebak, Minggu (21/6/2026).
Rahmat menjelaskan, petani di Lebak mengelola lahan sawah dengan luas tambah tanam mencapai 100 ribu hektare per tahun. Dengan indeks pertanaman dua kali setahun, daerah tersebut mampu menjaga produksi padi dalam jumlah besar. Berdasarkan laporan Kementerian Pertanian, Kabupaten Lebak bersama Kabupaten Serang masuk dalam 10 kabupaten pemasok beras nasional untuk kebutuhan masyarakat Jabotabek.
Rahmat menyebut produksi gabah kering pungut di Kabupaten Lebak pada 2025 mencapai 725.813 ton. Jika dikonversi menjadi beras, jumlahnya mencapai sekitar 380 ribu ton. "Kami mendorong produksi pangan di Lebak terus meningkat dan terbukti pada 2025 sebanyak 725.813 ton gabah kering pungut dan jika dikonversikan beras mencapai 380.000 ton," ujar Rahmat.
Sementara itu, kebutuhan konsumsi beras masyarakat Lebak yang berjumlah sekitar 1,4 juta jiwa hanya sekitar 140 ribu ton per tahun. Dengan produksi 380 ribu ton, Lebak mencatat surplus sekitar 240 ribu ton. Surplus inilah yang kemudian menjadi kontribusi Lebak untuk memenuhi kebutuhan pangan daerah lain, terutama kawasan Jabotabek yang memiliki kebutuhan beras tinggi.
Produksi beras terbesar di Lebak berasal dari wilayah selatan, seperti Kecamatan Malingping, Wanasalam, Banjarsari, dan Bayah. Sektor padi sawah juga masih menjadi sumber pendapatan utama petani dibandingkan komoditas hortikultura maupun palawija. Dari sisi ekonomi, usaha tani padi sawah di Lebak masih dinilai menjanjikan. Dengan biaya pengelolaan sekitar Rp10 juta per hektare, petani dapat menghasilkan rata-rata lima ton gabah pungut per hektare.
"Bila harga gabah pungut itu Rp6.500/kg dengan produktivitas 5 ton, sehingga bisa menghasilkan pendapatan Rp32.500.000/hektare," kata Rahmat. Ketua Gabungan Kelompok Tani Sukabungah Kabupaten Lebak Ruhiana mengatakan, pertanian padi masih memberi keuntungan bagi petani. Apalagi hasil panen dapat diserap Bulog dengan harga gabah pungut Rp6.500 per kilogram.
Menurut Ruhiana, dari lima ton gabah kering yang dihasilkan dalam satu hektare, sebagian dijual dan sebagian disimpan untuk cadangan pangan keluarga. "Kami menjual empat ton gabah kering dengan harga Rp6.500 per kg bisa menghasilkan pendapatan ekonomi Rp26 juta, sedangkan satu ton untuk cadangan pangan keluarga," kata Ruhiana. Pemkab Lebak berharap produksi padi terus terjaga agar daerah tersebut tetap menjadi lumbung pangan Banten sekaligus pemasok beras bagi wilayah Jabotabek. (ANT/FAD)