JAKARTA, AFU.ID — Upaya pemberantasan tuberkulosis (TB) di Kota Batam terus diperluas hingga menjangkau lembaga pemasyarakatan (lapas) dan rumah tahanan (rutan). Langkah ini dilakukan untuk mempercepat deteksi kasus sekaligus mencegah penularan di kelompok yang rentan.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam memastikan seluruh warga binaan pemasyarakatan (WBP) menjalani skrining TB secara rutin. Selain pemeriksaan berkala, pemerintah juga menjamin ketersediaan pengobatan bagi warga binaan yang terdiagnosis TB.
Kepala Dinkes Kota Batam, Didi Kusmarjadi, mengatakan layanan tersebut dijalankan melalui kerja sama dengan lapas dan rutan. Obat TB didistribusikan melalui puskesmas sesuai wilayah kerja masing-masing. “Kita ada MoU dengan rutan dan lapas untuk skrining dan pengobatan. Untuk skrining dilakukan secara rutin untuk seluruh penghuni,” kata Didi, Rabu (24/6/2026).
Layanan kesehatan bagi warga binaan didukung sejumlah puskesmas. Puskesmas Baloi Permai melayani Lapas Perempuan Kelas IIB Batam dan LPKA Kelas II Batam, sedangkan Rutan Batam serta Lapas Kelas IIA Batam dilayani oleh Puskesmas Sungai Langkai.
Upaya pengendalian TB juga diperkuat dengan melibatkan 26 fasilitas kesehatan pemerintah maupun swasta. Fasilitas tersebut berperan dalam distribusi obat dan penanganan pasien agar pengobatan dapat berjalan hingga tuntas.
Untuk mempercepat diagnosis, Batam telah menyiapkan fasilitas Tes Cepat Molekuler (TCM) di sejumlah rumah sakit dan puskesmas. Pemeriksaan ini menjadi salah satu instrumen utama dalam menemukan kasus TB secara lebih cepat dan akurat.
Hingga 20 Juni 2026, Dinkes Batam mencatat sebanyak 13.239 warga telah menjalani skrining TB. Dari jumlah tersebut, ditemukan 1.870 kasus positif yang terdiri dari 1.839 kasus TB sensitif obat dan 31 kasus TB resisten obat. Sepanjang 1–20 Juni 2026, tercatat 190 kasus baru TB ditemukan di Batam. Saat ini angka insiden TB di kota tersebut mencapai 134 kasus per 100 ribu penduduk.
Di tingkat nasional, Indonesia masih menghadapi beban TB yang tinggi dengan lebih dari 1 juta kasus setiap tahun. Perwakilan WHO Indonesia, dr. Setiawan Jati Laksono, menyebut Indonesia menyumbang sekitar 10 persen dari total kasus TB dunia. Pada 2024, tercatat sekitar 118 ribu kematian akibat TB pada orang tanpa HIV dan 8.100 kematian pada orang dengan HIV.
WHO menilai tantangan utama saat ini masih berasal dari kasus yang belum terdiagnosis, TB resistan obat, serta faktor risiko seperti malnutrisi, diabetes, dan kebiasaan merokok. Meski demikian, harapan tetap terbuka melalui pengembangan berbagai alat diagnostik, obat baru, dan kandidat vaksin TB yang saat ini tengah dikembangkan. (ANT/RAI)