JAKARTA, AFU.ID — Sebanyak 2.735 rumah rusak tercatat di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, hingga hari ketujuh pascagempa. Data kerusakan masih terus bertambah seiring pendataan lanjutan di lapangan.
Komandan Satgas Tanggap Darurat, Samuel Yansen Pongi, menyebut kerusakan terdiri atas 212 rumah rusak berat, 596 rusak sedang, dan 1.927 rusak ringan. Gempa juga berdampak pada sejumlah wilayah permukiman di Kabupaten Sigi yang tersebar di beberapa kecamatan. Lima desa tercatat mengalami kerusakan paling parah akibat guncangan tersebut.
Desa terdampak paling berat meliputi Uwenuni, Kamarora A, Kamarora B, Lembantongoa, dan Tongoa. Wilayah tersebut mengalami kerusakan bangunan dalam skala yang cukup luas. Jumlah warga terdampak mencapai 9.283 jiwa yang berasal dari 3.191 kepala keluarga. Mereka tersebar di 48 desa pada 11 kecamatan di Kabupaten Sigi.
Selain kerusakan rumah, gempa juga menyebabkan 92 warga mengalami luka. Dari jumlah tersebut, 14 orang mengalami luka berat dan 78 orang luka ringan. "Kami pun sudah mengajukan untuk pembangunan 210 hunian sementara (huntara) kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bagi warga yang rumahnya rusak berat," kata Samuel Yansen Pongi, Senin (22/6/2026).
Samuel menjelaskan, setelah masa tanggap darurat berakhir, penanganan akan masuk tahap rehabilitasi dan rekonstruksi. Tahap ini mencakup pemulihan rumah warga serta infrastruktur yang terdampak.
Pada tahap tersebut, pemerintah akan menyalurkan bantuan stimulan berdasarkan tingkat kerusakan rumah. Bantuan ditetapkan sebesar Rp15 juta untuk rusak ringan, Rp30 juta untuk rusak sedang, dan Rp60 juta untuk rusak berat.
Status tanggap darurat bencana di Kabupaten Sigi sendiri berakhir pada 30 Juni 2026. Pemerintah daerah masih melakukan pemantauan dan pendataan lanjutan di wilayah terdampak. (ANT/RAI)