JAKARTA, AFU.ID - Bencana gempabumi berkekuatan Magnitudo 7,7 menguncang wilayah Nusa Tenggara Timur pada Sabtu pagi, 15 Agustus 2026, sekitar pukul 04.58 WITA. Pusat gempa terdeteksi berada di Laut Flores, berjarak sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo. Guncangan hebat tersebut dirasakan di berbagai wilayah Pulau Flores hingga menimbulkan kepanikan warga yang berhamburan keluar dari rumah dan bangunan untuk menyelamatkan diri.
Pasca-gempa utama, BMKG merilis peringatan dini tsunami untuk kawasan pesisir, di mana wilayah Sikka bagian utara ditetapkan berstatus SIAGA dan Pulau Sikka berstatus WASPADA. Ancaman tersebut secara nyata terdeteksi secara instrumental melalui kenaikan muka air laut di stasiun pengamatan Sikka setinggi 0,19 meter pada pukul 06.03 WITA.
Tak lama kemudian, pada pukul 06.16 WITA, kenaikan gelombang tsunami setinggi 0,38 meter kembali tercatat di Pelabuhan Kewapante, Kabupaten Sikka. Penurunan dan pemantauan terus dilakukan karena gempa susulan dilaporkan masih berlangsung hingga pukul 07.02 WITA.
Laporan terbaru darn Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nusa Tenggara Timur (NTT) yang diterima Afu.id, Sabtu (15/8/2026) mengungkapkan, peristiwa ini mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan luka-luka di sejumlah daerah. "Di Kabupaten Sikka, dilaporkan tiga orang meninggal dunia. Salah seorang korban bernama Maria Diana Meliani (54) meninggal akibat tertimpa runtuhan bangunan pelabuhan saat berada di terminal keberangkatan," demikian dikutip dari laporan tersebut.
Korban lainnya, Bernadus Muda (66), meninggal dunia di RS TC Hillers Maumere akibat serangan jantung saat berusaha menyelamatkan diri. Sementara itu, Sophia (75) di Desa Wolokoli, Kecamatan Bola, ditemukan meninggal dunia setelah tertimpa bangunan ruang tunggu pelabuhan. Selain korban jiwa, enam warga di Sikka mengalami luka-luka dan shock berat, termasuk dua orang penumpang yang terjatuh ke laut di area pelabuhan.
Dampak fatal juga terjadi di Kabupaten Manggarai Timur dengan laporan tiga orang meninggal dunia di Desa Liang Deruk, Kecamatan Lamba Leda Utara, yang terdiri dari seorang ibu dan dua anaknya. Selain itu, terdapat satu korban luka berat dan lima korban luka ringan, serta 23 unit rumah di Desa Lenang hancur total.
Sementara di Kabupaten Manggarai, dilaporkan enam orang meninggal dunia, satu luka berat, dua luka ringan, serta puluhan rumah mengalami kerusakan. Untuk Kabupaten Manggarai Barat, pendataan sementara mencatat satu korban meninggal dunia. Kerusakan sarana publik dan infrastruktur meluas di kawasan terdampak.
Kerusakan tercatat terjadi pada fasilitas seperti Kantor Pelabuhan Laurens Say Maumere, Kampus Unika Ruteng, KCP BRI Borong, serta beberapa rumah ibadah. Akses transportasi darat turut terganggu akibat longsor tebing yang menutup jalur Trans Ende-Nagekeo, jalur Ende-Arubara, serta jalur Tengku Teang di Manggarai Timur. Pemerintah daerah bersama BPBD, TNI, Polri, Basarnas, dan tenaga kesehatan terus melakukan penanganan darurat dan evakuasi.
Di Kabupaten Ende dan Nagekeo, para pasien rumah sakit seperti di RSUD Ende dan RSUD Aeramo telah dievakuasi sementara ke tenda-tenda penampungan di halaman rumah sakit demi keselamatan. Kendala lapangan masih dihadapi petugas, terutama di Kabupaten Ende di mana jaringan telekomunikasi terganggu akibat pemadaman listrik. Kebutuhan mendesak seperti tenda pengungsian, obat-obatan, genset, makanan siap saji, dan selimut tengah disiapkan untuk mendistribusikan bantuan bagi masyarakat terdampak. (MAR)