JAKARTA, AFU.ID — Insiden fatal kembali terjadi di Stasiun Jurangmangu, Tangerang Selatan, setelah siswi berinisial AP (14) tewas tertemper KRL pada Senin (10/8/2026). Peristiwa itu terjadi setelah seorang pria juga meninggal akibat tertemper KRL di stasiun yang sama pada awal Juli. Dua kejadian dalam waktu berdekatan menyisakan pertanyaan mengenai langkah pencegahan dan pengawasan keselamatan di area peron yang berbatasan langsung dengan jalur kereta.
Kapolsek Ciputat Timur Kompol Bambang Askar Sodiq mengatakan kejadian terbaru diketahui sekitar pukul 16.43 WIB. Berdasarkan keterangan awal saksi, AP terlihat berada di peron ketika kereta dari arah Tanah Abang memasuki Stasiun Jurangmangu. Petugas keamanan kemudian melihat korban telah terjatuh ke jalur kereta.
"Petugas keamanan kemudian melihat korban sudah terjatuh ke jalur kereta tersebut," kata Bambang. Keterangan itu disampaikan pada Selasa (11/8/2026). Polisi masih mendalami rangkaian kejadian sebelum korban jatuh ke jalur dan belum menyimpulkan penyebab kematiannya.
Sejumlah saksi, termasuk teman sekolah korban, telah dimintai keterangan. Polisi juga masih mengumpulkan informasi untuk mengetahui kondisi korban sebelum kejadian. Hingga kini, belum ada kesimpulan resmi mengenai penyebab AP berada di jalur saat kereta melintas.
KAI Commuter sebelumnya menyatakan petugas pengamanan stasiun disiagakan di sepanjang peron untuk memantau pergerakan pengguna, memberikan peringatan keselamatan, serta membantu penumpang yang membutuhkan. KAI juga mengingatkan bahwa area peron berbatasan langsung dengan jalur kereta sehingga pengguna harus memperhatikan batas aman. Ketentuan tersebut disampaikan dalam imbauan keselamatan pengguna Commuter Line pada Mei 2026.
"Petugas pengamanan stasiun selalu disiagakan di sepanjang peron untuk memantau pergerakan penumpang," demikian keterangan KAI Commuter. Petugas juga bertugas memberikan peringatan apabila terdapat pengguna yang berada terlalu dekat dengan batas aman peron. Pengawasan tersebut menjadi salah satu bagian dari prosedur keselamatan di area stasiun.
Namun, belum ada penjelasan khusus dari KAI Commuter mengenai posisi maupun tindakan petugas di Stasiun Jurangmangu sebelum AP jatuh ke jalur. Belum diketahui pula apakah kejadian terbaru akan diikuti evaluasi terhadap pengawasan maupun langkah pencegahan di area peron. Kepolisian masih mendalami kejadian bersama pihak terkait.
Insiden tersebut bukan peristiwa fatal pertama di Stasiun Jurangmangu dalam waktu dekat. Pada Kamis (2/7/2026), seorang pria meninggal setelah tertemper KRL di emplasemen stasiun sekitar pukul 15.44 WIB. Polisi ketika itu melakukan olah tempat kejadian perkara menggunakan metode scientific crime investigation untuk mengetahui penyebab kejadian.
KAI Commuter juga mengonfirmasi insiden pada Juli menyebabkan rangkaian KA 1737D relasi Rangkasbitung-Tanah Abang harus menjalani pemeriksaan. Kejadian tersebut berdampak pada sejumlah perjalanan Commuter Line di lintas itu. Operasional kembali berjalan setelah proses penanganan di lokasi selesai.
Stasiun Jurangmangu sebelumnya telah mendapat peningkatan Standar Pelayanan Minimum (SPM), termasuk pembangunan dua lift dan eskalator di peron 1 dan 2, layanan kursi roda, tombol alarm darurat, serta pelebaran akses keluar-masuk. KAI Commuter mencatat stasiun tersebut melayani 199 perjalanan Commuter Line per hari berdasarkan data yang dipublikasikan setelah peningkatan fasilitas. Volume pengguna juga meningkat dari 1,13 juta orang pada 2021 menjadi 3,35 juta orang pada 2023.
Meski dua insiden fatal terjadi dalam waktu berdekatan, belum ada bukti yang menunjukkan keduanya disebabkan persoalan pengawasan maupun fasilitas Stasiun Jurangmangu. Penyebab kematian AP masih dalam penyelidikan polisi dan kedua peristiwa merupakan kasus berbeda. Penjelasan mengenai apakah pengamanan peron akan dievaluasi setelah kejadian terbaru masih menunggu keterangan KAI Commuter. (RHU)