Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
132 Haktare Lahan Terdampak Karhutla Gambut Nagan Raya Aceh, Api Bawah Tanah Jadi Tantangan
Bagikan:
Penulis: Adriyan Adirizky Rahmat · Reporter: Adriyan Adirizky R
Ringkasan Berita
Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Gambut Nagan Raya, Aceh, telah mempengaruhi sekitar 132 hektare lahan, dengan penanganan yang berlangsung selama sembilan hari hingga kini belum sepenuhnya padam karena adanya api dan bara yang masih berada di bawah permukaan tanah. Tim gabungan dari Manggala Agni, BPBD, dan masyarakat terus melakukan pemadaman serta pemantauan untuk mencegah perluasan kebakaran, sementara tantangan penanganan ini diperparah oleh kondisi medan yang sulit. Kementerian Kehutanan RI mengingatkan pentingnya kewaspadaan dan tindakan pencegahan dalam menghadapi musim kemarau untuk mengurangi risiko kebakaran lebih lanjut.
Tim Manggala Agni Daops Sumatra I/Sibolangit Kemenhut RI berusaha memadamkan Karhutla Gambut Nagan Raya Aceh di Desa Kayee Unoe, Kecamatan Darul Makmur, Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh. (Foto: Kemenhut RI)
JAKARTA, AFU.ID — Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) Gambut Nagan Raya Aceh berdampak pada sekitar 132 hektare lahan setelah sembilan hari penanganan. Peristiwa ini masih berlangsung pada permukaan dan bawah tanah akibat karakteristik ekosistem gambut. Hingga Jumat (24/7/2026), bara dan api bawah permukaan masih ditemukan, sehingga kebakaran belum dinyatakan padam.
Melansir website Kementerian Kehutanan Republik Indonesia (Kemenhut RI), Sabtu (25/7/2026), kebakaran terjadi di Desa Kayee Unoe, Kecamatan Darul Makmur, Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh. Tim gabungan masih melakukan pemadaman pada kawasan Hak Guna Usaha (HGU) PT Gelora Sawita Makmur untuk mencegah perluasan area terdampak. Penanganan melibatkan Manggala Agni Daerah Operasi (Daops) Sumatra I/Sibolangit, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nagan Raya, dan masyarakat.
Selama sembilan hari operasi, tim berhasil memadamkan kebakaran pada area sekitar 10 hektare dari total lahan terdampak. Namun, kondisi lapangan masih menyisakan bara dan titik api yang menjalar melalui lapisan bawah permukaan tanah. Situasi itu pun membuat proses pemadaman memerlukan pengawasan berulang untuk memastikan api tak muncul kembali.
Oleh karenanya, tim gabungan menerapkan pemadaman, pendinginan, dan pemantauan terhadap titik-titik rawan secara berkelanjutan. Strategi itu diperlukan karena kebakaran pada lahan gambut dapat berlangsung di bawah permukaan dan sulit terlihat secara langsung. Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Sumatera, Ferdian menjelaskan tantangan utama dalam penanganan kebakaran tersebut.
“Penanganan karhutla gambut membutuhkan upaya yang konsisten karena api dapat menjalar di bawah permukaan tanah. Tim terus melakukan pemadaman, pendinginan, dan memastikan titik-titik rawan agar api tidak kembali muncul,” ungkapnya.
Selain karakteristik api, kondisi medan turut memperlambat mobilisasi para personel dan peralatan menuju lokasi kebakaran. Jarak dari Posko Pemadaman di Kantor Socfindo Seumanyam menuju lokasi mencapai sekitar 1 jam 30 menit perjalanan. Sementara itu, sumber air pemadaman berasal dari parit selebar 2,5 meter dengan kedalaman sekitar 0,4 meter.
Dalam operasi tersebut, Manggala Agni Kemenhut RI mengerahkan mobil pemadam, kendaraan operasional, mesin pompa Mark-3, mini straeker, dan berbagai peralatan pendukung. Tim juga menggunakan selang pemadam, jet shooter, nozzle, dan embung untuk mendukung proses pengendalian api di lapangan.
Karhutla Gambut Nagan Raya Aceh Butuh Pemadaman Berkelanjutan
Di sisi lain, koordinator lapangan bersama para pemangku kepentingan melakukan pemantauan dan pemadaman secara bergantian. Pergantian personel terus berjalan untuk menjaga efektivitas operasi sekaligus memastikan penanganan berlangsung tanpa terputus. Pendekatan itu penting karena api bawah permukaan dapat kembali muncul setelah area permukaan terlihat padam.
Kemenhut RI lantas mengingatkan masyarakat dan seluruh pihak agar meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau. Penguatan patroli, deteksi dini, dan respons cepat menjadi langkah sangat penting untuk mengurangi risiko kebakaran. Kerentanan ekosistem gambut membuat pencegahan tetap menjadi strategi utama, bukan sekadar respons setelah kebakaran meluas.
Dengan luas lahan gambut yang terdampak sekitar 132 hektare dan baru 10 hektare yang berhasil dipadamkan, operasi tersebut menunjukkan besarnya tantangan pengendalian kebakaran gambut. Ancaman terbesar bukan hanya perluasan area terbakar, melainkan kemampuan api bertahan di bawah tanah tanpa terlihat. Alhasil, keberhasilan penanganan sangat bergantung pada konsistensi pemadaman, pemantauan, serta pencegahan munculnya kembali titik api. (ADR)