Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
Karhutla Bromo Meluas Jadi 120 Hektare, Api Diduga dari Jalur Tikus di Blok Bantengan
Bagikan:
Penulis: Raihan Immaduddin
Proses pemadaman di wilayah Pasuruan, pada hari keempat pada Kamis (6/8/2026). (Dok. Balai Besar TNBTS)
JAKARTA,AFU.ID — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Kaldera Bromo, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), terus meluas hingga menghanguskan sekitar 120 hektare lahan. Memasuki hari kelima, petugas gabungan masih berupaya mengendalikan kobaran api yang menyebar di sejumlah lereng curam, sementara penyebab pasti kebakaran masih dalam penyelidikan. Dugaan awal mengarah pada titik api yang muncul dari Blok Bantengan, kawasan di luar jalur wisata yang dikenal sebagai jalur tikus masyarakat.
Balai Besar TNBTS menyebut, medan yang ekstrem menjadi kendala utama dalam proses pemadaman. Banyak titik api berada di lereng dan tebing terjal sehingga sulit dijangkau personel darat. Kondisi tersebut membuat operasi pemadaman kini mengandalkan helikopter water bombing yang telah disiapkan di Lapangan Udara Abdulrachman Saleh, Kabupaten Malang.
Kepala Balai Besar TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha mengatakan kobaran api pada Jumat (7/8/2026) pagi mulai mengecil dibandingkan beberapa hari sebelumnya. Meski demikian, api masih membakar vegetasi berupa cemara gunung, semak belukar, dan akasia yang berpotensi memicu perluasan kebakaran apabila tidak segera dipadamkan. "Pagi ini, api tidak begitu besar. Tetapi harus segera ditangani agar tidak meluas," ujar Rudijanta.
Sambil menunggu operasi water bombing, ratusan personel gabungan tetap disiagakan di lapangan untuk menyekat laju api agar tidak merambat ke kawasan sabana. Petugas juga terus memantau pergerakan kobaran yang sebelumnya bergeser dari Blok Bantengan dan Watu Gede menuju kawasan Jandur hingga bawah Jemplang. "Helikopter ini bukan sekadar mempercepat pemadaman, tetapi memastikan titik api di tebing benar-benar padam karena tidak mungkin dijangkau manusia," kata Rudijanta.
Di sisi lain, Balai Besar TNBTS belum dapat memastikan penyebab kebakaran karena seluruh personel masih berfokus pada penanganan di lapangan. Pranata Humas Balai Besar TNBTS Endrip Wahyutama menjelaskan, titik awal kebakaran diketahui berada di Blok Bantengan yang berada di luar kawasan wisata TNBTS. Lokasi tersebut merupakan jalur terabasan atau jalur tikus yang biasa digunakan masyarakat dari Jemplang menuju Desa Argosari, Kabupaten Lumajang. (RAI)