JAKARTA, AFU.ID — Amerika Serikat dan Iran mengklaim telah mencapai kesepakatan awal untuk menghentikan operasi militer dan membuka kembali Selat Hormuz. Namun, kesepakatan itu belum sepenuhnya terang karena dokumen resmi baru dijadwalkan diteken di Swiss pada Jumat, (19/6/2026).
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan kesepakatan dengan Iran telah rampung. Ia juga mengizinkan pembukaan kembali Selat Hormuz tanpa pungutan biaya dan pencabutan blokade laut Amerika Serikat.
Pernyataan Trump muncul setelah Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengumumkan bahwa Washington dan Teheran mencapai kesepakatan damai. Pakistan disebut menjadi salah satu mediator dalam perundingan tersebut.
Sharif menyebut kedua pihak menyepakati penghentian segera dan permanen seluruh operasi militer di semua front, termasuk Lebanon. Upacara penandatanganan resmi disebut akan digelar di Swiss pada 19 Juni.
Dari pihak Iran, Wakil Menteri Luar Negeri Kazem Gharibabadi menyatakan naskah nota kesepahaman telah difinalkan. Ia mengatakan Amerika Serikat akan mencabut blokade laut terhadap Iran mulai Senin malam.
Namun, Gharibabadi menegaskan kesepakatan itu tidak berarti Iran mempercayai Amerika Serikat. Menurut dia, Teheran akan memantau pelaksanaan kewajiban Washington setelah dokumen ditandatangani.
Rancangan kesepakatan disebut mencakup pembukaan Selat Hormuz, pencabutan blokade laut, pembahasan sanksi, dan isu nuklir Iran. Namun, sejumlah rincian penting masih akan dinegosiasikan dalam periode 60 hari setelah kesepakatan awal berlaku.
Media Iran Mehr melaporkan kesepakatan final akan disahkan melalui resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Laporan itu juga menyebut Amerika Serikat berkomitmen tidak mencampuri urusan dalam negeri Iran dan menghormati kedaulatan Teheran.
Bagian paling sensitif ada pada Selat Hormuz, jalur laut strategis bagi perdagangan energi dunia. Trump menyatakan jalur itu akan dibuka tanpa pungutan, tetapi laporan Iran menyebut pembukaan penuh baru dilakukan dalam waktu 30 hari setelah penandatanganan.
Perbedaan detail itu membuat pasar dan negara pengguna energi masih menunggu kepastian. Pembukaan Selat Hormuz tidak hanya bergantung pada deklarasi politik, tetapi juga keamanan pelayaran, pembersihan ranjau, asuransi kapal, dan kepercayaan operator energi.
Kesepakatan ini juga terjadi di tengah ketegangan Israel, Hizbullah, dan Iran di Lebanon. Serangan Israel ke Beirut pada Minggu kembali memperlihatkan bahwa penghentian operasi militer di atas kertas belum tentu langsung menghentikan eskalasi di lapangan.
Karena itu, klaim damai AS-Iran masih perlu diuji lewat pelaksanaan konkret. Dunia kini menunggu apakah kesepakatan Swiss benar-benar membuka kembali Selat Hormuz atau hanya menjadi jeda baru dalam krisis geopolitik kawasan. (RHU)