JAKARTA, AFU.ID — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Washington terbuka untuk melanjutkan serangan terhadap Iran jika Teheran dinilai tidak mematuhi ketentuan dalam kesepakatan awal terbaru antara kedua negara.
Pernyataan itu disampaikan Trump saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi G7 di Evian-les-Bains, Prancis, Rabu, (17/6/2026). Ia menegaskan memorandum antara Amerika Serikat dan Iran belum bersifat final.
Kesepakatan awal tersebut disebut mencakup penghentian pertempuran serta pembukaan kembali Selat Hormuz. Namun, Trump menegaskan Amerika Serikat tetap dapat kembali menggunakan kekuatan militer jika tidak puas dengan pelaksanaan kesepakatan.
“Jika saya tidak menyukainya, kami akan kembali menembaki mereka, menjatuhkan bom di atas kepala mereka,” kata Trump kepada media saat memulai pertemuan dengan Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi di sela KTT G7.
Trump kembali menegaskan ancaman serupa jika Iran dianggap tidak berperilaku sesuai keinginan Washington.
“Jika mereka tidak berperilaku baik, kami akan langsung kembali menjatuhkan bom tepat di tengah-tengah kepala mereka,” ujarnya.
Amerika Serikat dan Iran sebelumnya menyatakan memorandum tersebut akan memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari. Perpanjangan itu dimaksudkan untuk memberi waktu bagi kedua pihak menegosiasikan kesepakatan final guna mengakhiri perang yang telah berlangsung hampir empat bulan.
Salah satu ketentuan dalam kesepakatan awal itu adalah pencabutan blokade laut Amerika Serikat terhadap lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan-pelabuhan Iran. Blokade tersebut diberlakukan Washington sejak April.
Meski begitu, kedua negara belum membuka rincian lengkap dari kesepakatan sementara tersebut. Memorandum itu dijadwalkan diformalkan pada Jumat dalam sebuah upacara di Swiss.
Ancaman Trump menunjukkan kesepakatan damai AS-Iran masih sangat rapuh sebelum benar-benar masuk tahap final. Di satu sisi, Washington dan Teheran berbicara soal gencatan senjata dan pembukaan Selat Hormuz. Di sisi lain, Amerika Serikat tetap menempatkan ancaman serangan militer sebagai alat tekanan.
Situasi ini membuat implementasi kesepakatan berisiko bergantung pada tafsir sepihak mengenai kepatuhan Iran. Tanpa mekanisme pemantauan yang jelas, gencatan senjata dapat kembali runtuh jika salah satu pihak menilai pihak lain melanggar kesepakatan.
Trump dijadwalkan menggelar konferensi pers setelah berakhirnya KTT G7 di Prancis. Publik internasional kini menunggu apakah pernyataan keras tersebut hanya menjadi tekanan diplomatik atau sinyal bahwa opsi militer terhadap Iran masih terbuka di tengah proses menuju kesepakatan final. (RHU)