Target Partai Solidaritas Indonesia (PSI) untuk menjadikan Jawa Tengah V sebagai "kandang gajah" dinilai terlalu ambisius, mengingat dominasi PDI Perjuangan yang menguasai tiga dari delapan kursi di daerah tersebut. Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno, berpendapat bahwa PSI sebaiknya lebih realistis dengan mengejar satu kursi melalui pencalonan Kaesang Pangarep, yang berpotensi menggerakkan suara di Kota Solo. Meskipun pencalonan Kaesang dapat mempengaruhi dinamika pemilihan, PAN dan PKB juga terancam kehilangan kursi jika PSI berhasil lolos ambang batas parlemen pada Pemilu 2029, mengingat perolehan suara yang ketat di Dapil ini.
Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kaesang Pangarep. (ANTARA FOTO/Hasrul Said)
JAKARTA, AFU.ID – Target Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menjadikan Jawa Tengah sebagai “kandang gajah” dinilai masih terlalu jauh jika dibandingkan dengan kekuatan PDI Perjuangan di Daerah Pemilihan Jawa Tengah V. PDI-P menguasai tiga dari delapan kursi pada Pemilu 2024, sedangkan PSI gagal masuk DPR karena tidak memenuhi ambang batas parlemen secara nasional.
Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno menilai PSI lebih realistis mengejar satu kursi melalui pencalonan Ketua Umumnya, Kaesang Pangarep. Masuknya Kaesang juga dinilai tidak otomatis mengurangi kursi PDI-P. “Kejauhan istilah merebut kandang banteng itu. Bisa dapat satu kursi sudah oke PSI di Dapil V,” kata Adi kepada AFU.ID, Selasa (28/7/2026).
Jawa Tengah V menyediakan delapan kursi DPR dan meliputi Kota Solo, Kabupaten Boyolali, Sukoharjo, serta Klaten. Kaesang telah menyatakan akan maju sebagai calon anggota DPR dari dapil tersebut pada Pemilu 2029. Kaesang memilih hanya menggarap suara di Kota Solo. Wilayah Boyolali, Sukoharjo, dan Klaten akan diserahkan kepada bakal calon PSI lainnya untuk mencegah perebutan suara di antara sesama calon partai.
Menurut Adi, pemilihan Jawa Tengah V berkaitan dengan jaringan politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo yang dinilai masih kuat di Solo. Faktor tersebut memberikan peluang lebih besar bagi Kaesang dibandingkan apabila maju dari dapil lain. “Kaesang berani maju di dapil yang basis politik Jokowi dinilai masih kuat. Tinggal dilihat apakah dapat dukungan rakyat atau tidak nantinya,” ujarnya.
Masuknya Kaesang ke dapil yang juga ditempati Ketua DPR Puan Maharani memunculkan persepsi adanya pertarungan langsung antara PSI dan PDI-P. Namun, Adi menilai pencalonan itu tidak cukup untuk disebut sebagai pertarungan antara Jokowi dan Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri. “Terlalu kecil mengaitkan ini sebagai pertarungan Mega dan Jokowi. Karena cuma Dapil V yang kebetulan di situ ada Mbak Puan dan Kaesang,” kata Adi.
PDI-P mengumpulkan 774.282 suara dan mendapatkan tiga kursi dari Jawa Tengah V pada Pemilu 2024. Puan menjadi calon dengan perolehan tertinggi sebanyak 297.366 suara. Dua kursi lainnya diraih Aria Bima dengan 115.123 suara dan Didik Haryadi sebanyak 76.728 suara. Lima kursi tersisa dibagi kepada Golkar, Gerindra, PKS, PAN, dan PKB.
PAN dan PKB dinilai lebih berpotensi tertekan apabila PSI mampu lolos ambang batas parlemen pada Pemilu 2029. Perolehan suara ketiga partai di Jawa Tengah V pada pemilu sebelumnya hanya terpaut tipis. PSI mengumpulkan 134.249 suara pada Pemilu 2024. Jumlah tersebut lebih tinggi 114 suara dibandingkan PAN yang memperoleh 134.135 suara dan unggul 1.359 suara atas PKB dengan 132.890 suara.
Meski memperoleh suara lebih tinggi, PSI tidak mengikuti pembagian kursi karena gagal memenuhi ambang batas parlemen secara nasional. PAN dan PKB masing-masing berhasil mengamankan satu kursi DPR. Kursi PAN diperoleh Muhammad Hatta yang meraih 72.369 suara. Sementara itu, Mohamad Toha dari PKB terpilih setelah mengumpulkan 67.215 suara.
Adi menilai persaingan di Jawa Tengah V tidak hanya melibatkan PSI dan PDI-P. Kedekatan perolehan suara membuat partai-partai pemilik satu kursi juga berpotensi terdampak apabila PSI mampu meningkatkan dukungan. “Jangan hanya PDI-P yang dilihat, tapi lihat partai lain di dapil ini yang potensial tergerus,” ujarnya. Namun, pencalonan Kaesang tidak otomatis membuat PAN atau PKB kehilangan kursi.
Kehadirannya dapat mendorong partai-partai yang telah memiliki wakil untuk memperkuat konsolidasi dan mempertahankan basis pemilih. “Bisa saja majunya Kaesang membuat partai-partai lain makin solid supaya tidak tergerus. PSI juga bisa tidak dapat apa-apa,” kata Adi. (FAD)