AFU.id

Hari Gajah Sedunia: Gajah Sumatra di Ambang Kepunahan Lokal, Saatnya Beraksi Lakukan Perlindungan

Bagikan:

Penulis: Agung Riyadi

Ringkasan Berita

Dalam rangka memperingati Hari Gajah Sedunia, Koalisi Bentang Seblat menggelar Elephant Camp 2026 di Taman Wisata Alam Seblat, dengan tema #GajahKita, untuk meningkatkan kesadaran akan perlindungan gajah Sumatra yang terancam punah akibat kerusakan habitat dan perburuan. Saat ini, populasi gajah di Bentang Seblat hanya tersisa puluhan ekor, dan ancaman utama berasal dari konversi hutan menjadi kebun sawit serta konflik dengan petani. Koalisi mendesak perubahan status kawasan Bentang Seblat menjadi suaka margasatwa untuk meningkatkan perlindungan terhadap gajah dan ekosistemnya.

Hari Gajah Sedunia: Gajah Sumatra di Ambang Kepunahan Lokal, Saatnya Beraksi Lakukan Perlindungan
Gajah Sumatra bersama anaknya (ANTARA)

Sentimen Berita

69% sumber condong ke netral

Kiri31%
CNN Indonesia
Suara
Tempo
Pikiran Rakyat
Netral69%
Liputan6
Kumparan
IDN Times
Merdeka
Tribunnews
JPNN
Jawa Pos
Media Indonesia
SINDOnews
Kanan0%

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Bengkulu, Agung Nugroho mengatakan saat ini gajah di Bengkulu tersisa 25-30 ekor. Sedangkan sebanyak 10 ekor merupakan gajah jinak di TWA Seblat. “Gajah liar yang terekam punya empat anakan dan sisanya gajah dewasa. Jadi secara populasi masih bereproduksi,” ujar Agung.

Meskipun demikian, Agung menilai masih banyak tantangan yang dihadapi kawasan gajah dan habitatnya, yakni akibat berkurangnya tutupan hutan, konversi menjadi perkebunan sawit. "Jika terus terjadi maka populasi gajah ini terancam dan ini yang harus kita cegah," kata Agung.

Koordinator PLG Seblat Bengkulu, Johansyah mengatakan, kegiatan Elephant Camp sebagai bentuk dukungan publik terhadap eksistensi dan keberlanjutan konservasi gajah di PLG Seblat. "Para peserta bisa berinteraksi secara langsung dan menjadi sarana edukasi tentang gajah Sumatra di Bengkulu," ujar Johan.

Perlu diketahui, gajah memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem, yakni sebagai agen penyebar benih. Melalui aktivitas makan, berpindah tempat, dan membuang kotoran, gajah menyebarkan biji tanaman, membuka jalur alami, dan menjaga regenerasi hutan, keberadaan gajah juga memastikan keberagaman jenis tumbuhan dapat tumbuh dengan sempurna.

Salah seorang peserta Elephant Camp Bela Wilianti mengatakan, Bentang Seblat memiliki keanekaragaman hayati yang patut dilindungi dan dilestarikan. Setelah mengikuti kegiatan susur hutan yang dipandu oleh personil BKSDA, peserta mampu mengenali keunikan flora dan fauna di Bentang Seblat.

"Banyak keanekaragaman yang kami temui. Ada serangga, dan tumbuhan yang belum pernah kami temui, termasuk pohon meranti yang terancam punah," kata Bela.

Selain susur hutan, peserta kemah juga diajak berinteraksi dengan gajah binaan PKG Seblat. Peserta lainnya, Pinka yang datang bersama keempat temannya mengatakan baru pertama kali berkunjung ke PKG Seblat dan melihat gajah secara langsung. Kegiatan ini menurutnya menjadi pengalaman yang tidak terlupakan baginya dan rekan - rekannya.

“Ini menjadi pengalaman berharga. Kegiatan ini semakin menyadarkan kita bahwa keberadaan gajah sangat penting dan mereka berhak mendapatkan ruang hidup yang aman,” kata Pinka. (MAR)

Berita Terkait

Pilihan Redaksi