JAKARTA, AFU.ID — Angka kematian akibat hepatitis di Indonesia masih tinggi.
WHO mencatat hepatitis B menyebabkan sekitar 60.000 kematian setiap tahun di Indonesia.
Hepatitis C juga menyebabkan lebih dari 6.000 kematian setiap tahun.
Artinya, hepatitis B dan C menyebabkan lebih dari 66.000 kematian per tahun di Indonesia.
Di sisi lain, harga obat hepatitis di Indonesia masih jauh lebih mahal dibandingkan harga global.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan harga obat di Indonesia bisa 2 hingga 6 kali lebih mahal dari harga dunia.
Budi mencontohkan harga Tenofovir Disoproxil Fumarate atau TDF di Indonesia mencapai 4,8 dolar AS.
Padahal, harga global obat tersebut sekitar 2,4 dolar AS.
Untuk obat Daclatasvir atau DAC, harga di Indonesia disebut mencapai 152 dolar AS.
Harga global obat tersebut sekitar 24 dolar AS.
Artinya, harga Daclatasvir di Indonesia lebih dari 6 kali lipat dibandingkan harga global.
Budi menilai persoalan harga obat perlu dibenahi agar penanganan penyakit hati bisa lebih efektif.
Selain harga obat, pemerintah juga mengejar perluasan skrining hepatitis B dan C.
Target skrining yang ditetapkan WHO mencapai 90 persen.
Namun, realisasi skrining di Indonesia saat ini baru sekitar 10 persen.
Budi juga menyebut target pengobatan hepatitis sebesar 80 persen.
Namun, realisasinya diperkirakan masih jauh di bawah target.
Kementerian Kesehatan kini mengandalkan program Cek Kesehatan Gratis untuk memperluas deteksi dini.
Program itu ditargetkan menjangkau 136 juta orang pada 2026.
Sebelumnya, program tersebut menjangkau sekitar 70 juta orang pada 2025.
Data Kementerian Kesehatan berdasarkan Survei Kesehatan 2023 mencatat sekitar 6,7 juta penduduk Indonesia terinfeksi hepatitis B.
Sebanyak 2,5 juta penduduk lainnya terinfeksi hepatitis C.
Dengan demikian, sekitar 9,2 juta penduduk Indonesia tercatat terinfeksi hepatitis B dan C.
Budi mengatakan skrining perlu dilakukan lebih agresif.
Pemeriksaan tidak hanya melalui tes darah.
Kementerian Kesehatan juga ingin memperkuat skrining radiologi di fasilitas kesehatan.
Pemerintah akan melatih dokter umum di puskesmas agar dapat melakukan skrining hati.
USG yang sudah tersedia di puskesmas juga akan dimanfaatkan untuk mendeteksi gangguan hati lebih awal.
Budi menilai penyakit hati harus ditemukan sebelum memburuk menjadi sirosis.
Menurut dia, penanganan lebih awal dapat mencegah pasien masuk ke kondisi yang lebih berat. (RHU)