JAKARTA, AFU.ID — Setelah empat pusat perbelanjaan di Surabaya dipasangi pagar besi tinggi, pemandangan serupa kini muncul di Mal Kota Kasablanka, Jakarta Selatan. Pagar berwarna abu-abu setinggi sekitar 2,5 meter dipasang di depan mal yang berada di bawah pengelolaan Pakuwon Group tersebut. Pembangunan yang berlangsung hampir bersamaan di sejumlah kota kembali memicu pertanyaan mengenai alasan pengamanan dilakukan secara masif.
Pagar di Kota Kasablanka membentang sekitar 100 meter dari dekat pintu masuk kendaraan di Jalan Raya Casablanca hingga area pintu keluar dekat lobi utama. Bagian atas pagar dibuat menyudut dan lancip, sedangkan beberapa sisinya dirancang miring agar sulit dipanjat. Pemasangan tersebut mengubah bagian depan mal yang sebelumnya terlihat terbuka menjadi area dengan akses lebih terbatas.
Kota Kasablanka menyusul Pakuwon Mall, Tunjungan Plaza, Royal Plaza, dan Pakuwon City Mall di Surabaya yang lebih dahulu dipagari. Kesamaan waktu dan kepemilikan membuat sebagian warganet mengaitkannya dengan antisipasi demonstrasi, vandalisme, hingga kerusuhan. Namun, spekulasi mengenai krisis ekonomi maupun ancaman penjarahan belum didukung keterangan atau bukti resmi.
Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia Alphonzus Widjaja mengatakan pagar digunakan untuk menertibkan akses keluar-masuk pengunjung. Menurutnya, pengunjung yang bebas menyeberang atau masuk dari berbagai sisi dapat membahayakan lalu lintas di sekitar pusat perbelanjaan. “Tujuan utamanya adalah supaya lebih menertibkan arus keluar masuk pengunjung,” kata Alphonzus, Kamis (30/7/26).
Alphonzus menyebut pagar di pusat perbelanjaan bukan fenomena baru karena sebagian mal telah memilikinya sejak awal pembangunan. Ia juga mengakui pembatas fisik dapat menjadi pengamanan tambahan bagi mal yang berada di pusat kota atau dekat jalur demonstrasi. Penjelasan tersebut menunjukkan pertimbangan keamanan tetap menjadi salah satu fungsi pagar, meski tidak membenarkan spekulasi akan terjadi kerusuhan.
Pakuwon Group sebelumnya memberikan alasan berbeda untuk setiap mal di Surabaya. Pagar Pakuwon Mall dikaitkan dengan keselamatan pejalan kaki setelah beroperasinya Radial Road, sedangkan pagar Royal Plaza dan Pakuwon City Mall diganti karena material lama telah keropos. Khusus Tunjungan Plaza, manajemen mengakui pagar permanen dibutuhkan untuk pengamanan ketika demonstrasi berlangsung di sekitar Gedung Negara Grahadi.
Manajemen juga membantah pemasangan pagar di Surabaya berkaitan dengan memburuknya kondisi ekonomi maupun ancaman penjarahan. Pakuwon menyatakan kinerja bisnis ritel perusahaan tetap positif sepanjang semester pertama 2026. Akan tetapi, penjelasan tersebut baru diberikan untuk mal-mal di Surabaya dan belum secara khusus menjawab alasan pemasangan pagar di Kota Kasablanka.
Hingga berita ini diterbitkan, Pakuwon Group belum memberikan keterangan khusus mengenai waktu, tujuan, serta cakupan pembangunan pagar di Kota Kasablanka. Belum diketahui pula apakah pagar tersebut merupakan bagian dari program serentak di seluruh properti Pakuwon atau hanya penataan keamanan di lokasi tertentu. Selama penjelasan itu belum disampaikan, kemunculan pagar tinggi secara hampir bersamaan akan terus membuka ruang spekulasi di tengah masyarakat.
Pagar pada dasarnya merupakan fasilitas keamanan yang lazim digunakan pusat perbelanjaan. Namun, pembangunan serentak di sejumlah mal besar membuat publik berhak memperoleh penjelasan yang lebih spesifik daripada alasan keamanan secara umum. Keterbukaan manajemen diperlukan agar perubahan wajah ruang publik itu tidak terus dikaitkan dengan ketakutan yang belum terbukti. (RHU)