Jakarta, AFU.ID — Sulaiman Tanjung, Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), menjadi sorotan setelah dinilai menjadi pemicu kericuhan dalam sidang pleno Komisi Organisasi pada Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU 2026 di Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri, Senin (22/6/2026).
Sulaiman Tanjung bukan sosok yang asing di tubuh PBNU. Ia dikenal sebagai salah satu “tangan kanan” Sekjen PBNU Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan kerap menjadi juru bicara serta operator lapangan kepentingan Gus Ipul, khususnya dalam konsolidasi dengan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) di wilayah Sumatera. Sulaiman Tanjung tercatat pernah menjadi caretaker Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) di Bangka Belitung, Kepulauan Riau (Kepri), dan Riau.
Menurut unggahan yang pertama kali diposting oleh akun X @ma2nwedung pada Selasa, 23 Juni 2026, Sulaiman Tanjung menuai kritik tajam dari internal NU. Unggahan tersebut menyebutkan bahwa mantan Ketua PWNU Riau, Rusli Ahmad, pernah menyebut Sulaiman Tanjung sebagai “mafia organisasi” dan “raja amplop” dalam pemberitaan media online.
Peran Sulaiman juga disebut semakin kuat saat menggeser Rusli Ahmad dari PWNU Riau dan menunjuk penggantinya, KH Abdul Halim Mahally, yang disebut sebagai Korwil PKH Kemensos Provinsi Riau.
Unggahan @ma2nwedung juga menyoroti kehadiran Sulaiman Tanjung saat kunjungan Gus Ipul ke Riau pada 14 Juni 2026 untuk bersilaturahmi dengan PWNU dan PCNU se-Riau, di mana ia terlihat ikut mengawal Sekjen PBNU tersebut.
Puncak perhatian terjadi saat sidang pleno. Unggahan tersebut mengutip: “...ketika pimpinan sidang pleno komisi organisasi Katib Aam PBNU KH Said Asrori mengetuk palu sebagai pengesahan Ponpes Lirboyo menjadi tuan rumah Muktamar NU ke 35, ST bersama Umarsyah, Safitri (Kakanwil Kemenag Sumsel) dan beberapa pengurus NU dari unsur Kemenag berdiri, bersuara keras dan menunjuk nunjuk dengan jarinya ke arah Katib Aam sambil menyatakan protes atas keputusan itu.”
Sikap tersebut dinilai tidak beradab karena dilakukan di hadapan para masyayikh NU seperti KH Nurul Huda Djazuli, KH Anwar Mansyur Lirboyo, dan banyak kyai sepuh lainnya. Akibatnya, sejumlah kader dan mantan pengurus Ansor seperti Habib Nuruzzaman, Azwar A Ghani (Ketua Ansor Aceh), Ajhar Jowe, Purwaji, serta Gus Kautsar mendatangi Sulaiman Tanjung dan kelompoknya untuk mengambil sikap, meski sempat dihalangi petugas keamanan.
Selain itu, unggahan tersebut juga menyebut peran Sulaiman Tanjung dalam isu perubahan AD ART Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). Saat kubu Saifullah Yusuf dituduh mendorong perubahan tersebut yang memicu keresahan para masyayikh, Sulaiman Tanjung disebut mengeluarkan klarifikasi di Detik yang menyatakan usulan itu berasal dari PWNU Jawa Tengah. Klarifikasi itu kemudian dibantah oleh Rais Syuriah PWNU Jateng, KH Ubaidillah Sodaqoh.
Pasca-insiden di Ploso, Sulaiman Tanjung mendapat kecaman luas dari nahdliyin di berbagai daerah. Berbagai flyer, meme, dan unggahan yang mengecam sikapnya beredar luas di media sosial dengan tagar seperti #GusIpul dan #SuulAdab.
Hingga berita ini diturunkan, Sulaiman Tanjung belum memberikan keterangan resmi mengenai tudingan dan insiden yang terjadi. Munas dan Konbes NU 2026 digelar sebagai persiapan menuju Muktamar NU ke-35 yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2026. (EER)