JAKARTA, AFU.ID — Sebelum kebakaran KM Mutiara Sentosa 2 pada Minggu 2 Agustus kemarin di perairan utara Sumenep, Madura, armada milik PT Atosim Lampung Pelayaran (ALP) sebenarnya sudah punya rekam jejak serupa. Pada 2017, KM Mutiara Sentosa 1, mengalami nasib yang sama saat berlayar di perairan yang tak jauh berbeda, dan insiden itu menelan korban jiwa.
Berdasarkan penelusuran dari beberapa sumber, KM Sentosa 1 yang mengangkut penumpang dari Surabaya menuju Balikpapan juga dilalap api. Kapal tersebut terbakar di dekat Pulau Masalembu, Kecamatan Masalembu, tepat di koordinat 05°33.01 S dan 114°34.25 E, tiga mil di sisi timur laut pulau tersebut. Titik api bermula dari dek kendaraan, sebelum akhirnya merembet ke lantai dasar kapal dan diduga menyentuh cadangan bahan bakar.
Kru sudah mencoba alat pemadam api ringan (APAR), sprinkler, hingga hidran, tapi semua upaya itu tidak cukup menahan laju kobaran. Ledakan-ledakan kecil sempat terdengar dari dalam kapal, membuat penumpang di dek bawah panik bukan kepalang. Ditambah asap kelabu keputihan yang bikin sesak dan pusing, kondisi kian tak terkendali.
Kondisi tersebut mengakibatkan nahkoda memutuskan abandon ship atau perintah agar seluruh anak buah kapal (ABK) dan penumpang segera turun, baik lewat lompatan langsung ke laut maupun naik sekoci dan liferaft. "Penumpang sebagian besar lompat ke laut," kata Humas Basarnas, M Yusuf Latif sebagaimana dikutip Kompas.com, Senin (3/8/2026).
Menurut Yusuf, para sopir truk juga ikut terjun ke laut setelah perintah evakuasi keluar. Sementara itu, seluruh kendaraan yang terparkir di dek mobil tak lagi bisa diselamatkan dan ludes terbakar. Catatan awal pelayaran menunjukkan kapal itu membawa muatan cukup padat, mulai dari dua sepeda motor, 21 mobil kecil, 10 truk sedang, hingga 47 truk besar.
Soal jumlah orang di kapal, berkisar 134 penumpang plus 37 ABK, sementara terdapat juga beberapa laporan lain yang mencatat 135 penumpang dan 44 ABK. Meski demikian, saat proses evakuasi rampung, Tim SAR Surabaya diketahui telah berhasil menyelamatkan 197 orang, angka yang lebih tinggi dari kedua catatan tersebut. "Kami mendapat informasi ada sopir cadangan dan juga cleaning service di kapal yang tidak dimasukkan ke manifes oleh perusahaan. Itu tidak dilaporkan ke Otoritas pelabuhan dan Syahbandar," terang Kepala Syahbandar Tanjung Perak Hari Setyobudi soal selisih data tersebut.
Pengusutan Asal Muasal Kebakaran
Untuk mengusut asal-muasal kebakaran, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) kala itu juga turut menurunkan tim investigasi. Tim investigasi menggali informasi dari sejumlah kru kapal, sopir, kernet, sampai penumpang yang selamat. "Sumber api pertama berasal dari truk warna hijau, truk ditutup terpal berwarna biru. Belum diketahui identitas truk itu. Setelah api muncul di dek bawah, penumpang berusaha memadamkan api," sebut Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono.
Sayangnya, sprinkler dan hidran yang sempat dinyalakan kru tidak banyak membantu. "Setelah itu api membesar dan tidak terkontrol. Kami belum tahu api muncul karena apa," tutur Soerjanto. Untungnya, pertolongan datang cepat berkat sejumlah kapal yang kebetulan lewat di perairan sekitar. Salah satunya kapal tugboat, yang langsung berbelok arah begitu melihat kobaran api dan ikut menolong korban.
Lebih lanjut, sampai pukul 23.40 WIB pada Jumat malam itu, Polsek Masalembu mencatat sebaran korban. Rinciannya yakni 89 orang menunggu di kantor Syahbandar, 41 orang menjalani perawatan di Puskesmas Masalembu, 30 orang masih di perjalanan menuju darat, dan 30 orang lagi bertahan di lambung kapal yang terbakar.
Tak semua korban ditemukan di sekitar lokasi kejadian. Dua perempuan, Wanarsih (45) dan Shinta (18), justru terbawa arus sejauh 20 mil hingga ke perairan antara Pulau Masalembo dan Kepulauan Pangkep, Sulawesi Selatan, sebelum akhirnya ditemukan mengapung oleh KM Meratus. Keduanya sempat dilarikan ke RS Stellamaris, Makassar, pada Minggu 21 Mei 2017 karena luka di perut dan punggung akibat benturan saat melompat dari kapal.
Pada akhirnya, operasi pencarian dihentikan Basarnas pada Minggu sore, dengan total 197 orang berhasil dievakuasi selama proses berlangsung. Sebanyak 192 di antaranya selamat, sedangkan lima lainnya meninggal dunia. Para penyintas diberangkatkan ke Surabaya dengan KM Dharma Kartika 9 pada Sabtu malam sebelumnya, sementara jenazah korban baru diserahkan ke keluarga setelah proses identifikasi rampung di RS Bhayangkara Polda Jawa Timur. (NAD)