JAKARTA, AFU.ID — Presiden Prabowo Subianto meresmikan peletakan batu pertama atau groundbreaking Proyek Strategis Nasional (PSN) Blok Masela di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku Kamis (16/7/2026). Groundbreaking ini digadang-gadang menjadi momentum strategis bagi penguatan ketahanan energi nasional sekaligus salah satu pengembangan gas terbesar di Indonesia. Lantas, sebenarnya proyek apa Blok Masela itu, dan apa manfaatnya bagi Indonesia?
Peresmian ini menandai dimulainya pembangunan Proyek Abadi Liquefied Natural Gas (LNG) dengan nilai investasi mencapai sekitar Rp300 triliun, setelah proyek tersebut sempat tarik ulur penggarapannya selama 25 tahun. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia sebelumnya memastikan kehadiran Prabowo dalam agenda tersebut saat ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu kemarin.
Menjelang kunjungan Prabowo, pengamanan dan pengecekan lokasi telah dilakukan sejak Selasa lalu oleh Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa bersama Pangdam XV Pattimura Mayjen Dodi Triwinarto, Kapolda Maluku, dan sejumlah pejabat daerah di Desa Lermatang, Kecamatan Tanimbar Selatan. Peninjauan tersebut mencakup area utama groundbreaking, panggung VVIP, jalur kedatangan dan kepulangan, pusat media, fasilitas kesehatan, jalur evakuasi, area parkir, hingga pengamanan objek-objek vital di sekitar lokasi.
Seluruh skenario pengamanan turut dievaluasi ulang bersama instansi terkait guna memastikan koordinasi antarlembaga berjalan optimal, mulai dari pengamanan terbuka dan tertutup, pengamanan jalur, hingga kesiapsiagaan personel TNI-Polri di setiap titik strategis. Dengan seluruh persiapan tersebut, pemerintah optimistis groundbreaking Blok Masela dapat berjalan lancar dan menjadi tonggak baru penguatan sektor energi nasional.
Blok Masela Proyek Apa?
Sebagai mana dikutip dari Kompas.com, secara sederhana, Blok Masela adalah kawasan eksplorasi minyak dan gas bumi yang terletak di perairan Laut Arafura, tak jauh dari Pulau Masela, sekitar 150 kilometer ke arah selatan wilayah Kabupaten Kepulauan Tanimbar yang merupakan daerah otonom baru pecahan Kabupaten Maluku Barat Daya.
Di kawasan inilah ditemukan cadangan gas raksasa yang dikenal sebagai Lapangan Abadi, dengan estimasi potensi sekitar 3,06 triliun kaki kubik gas dan 119 juta barel kondensat. Gas yang diambil dari lapangan tersebut nantinya diproses menjadi LNG atau gas alam cair yang sebagian dijual ke luar negeri dan sebagian dialokasikan untuk kebutuhan dalam negeri.
Julukan Blok Masela kerap membuat orang mengira ini properti satu perusahaan, padahal statusnya tetap aset negara yang pengelolaannya diserahkan lewat skema kontrak kerja sama migas. INPEX Masela Ltd. dari Jepang memegang kendali sebagai operator utama dengan porsi kepemilikan atau participating interest terbesar, yakni 65 persen.
Sisanya dibagi antara Pertamina Hulu Energi yang menggenggam 20 persen saham, dan Petronas asal Malaysia dengan 15 persen. komposisi ini berubah setelah raksasa energi Shell memutuskan hengkang dari proyek. Pengawasan teknis dan operasionalnya sendiri berada di tangan SKK Migas selaku regulator hulu migas nasional.
Berapa Nilai Investasinya?
Dari sisi pembiayaan, proyek ini digadang bernilai fantastis, antara 20 hingga 22 miliar dollar AS, atau setara Rp300 triliun hingga Rp330 triliun. Skema yang dipakai adalah Floating LNG (FLNG), yakni fasilitas pengolahan gas terapung di lepas pantai tanpa perlu membangun kilang darat.
Bila proyek berjalan sesuai rencana, kapasitas produksinya diperkirakan tembus 10,5 juta ton LNG per tahun, ditambah pasokan gas domestik sebesar 1,5 miliar kaki kubik per hari. Produksi gas perdana sendiri ditargetkan baru bisa terealisasi pada rentang 2029 hingga 2030. (NAD)