Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
Prabowo Target Tutup 800 BUMN per 31 Desember 2026, Negara Hemat Rp70 Triliun
Bagikan:
Penulis: Adriyan Adirizky Rahmat · Reporter: Adriyan Adirizky R
Ringkasan Berita
Perbaikan tata kelola Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terus menjadi perhatian Pemerintah Republik Indonesia (RI). Salah satunya dengan coba memangkas perusahaan negara dari yang jumlahnya mencapai 1.000 lebih.
Presiden RI, Prabowo Subianto memberi sambutan dalam peresmian lima bendungan baru yang berpusat di Bendungan Meninting, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi NTB, Jumat (10/7/2026). (Foto: BPMI Setpres/Muchlis Jr)
JAKARTA, AFU.ID — Perbaikan tata kelola Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terus menjadi perhatian Pemerintah Republik Indonesia (RI). Salah satunya dengan coba memangkas perusahaan negara dari yang jumlahnya mencapai 1.000 lebih.
Presiden RI, Prabowo Subianto menyampaikan pembenahan tersebut menjadi bagian penting dalam mewujudkan Indonesia yang makmur. Pasalnya, banyak perusahaan pelat merah yang justru menjadi beban negara selama puluhan tahun ke belakang.
Presiden Prabowo menyatakan sejumlah perusahaan negara yang sekian puluh tahun mengalami kerugian, kini mulai mencatat keuntungan. Namun, Ia belum puas dan kini menargetkan menutup berbagai anak, cucu, hingga cicit perusahaan.
“Perkiraan saya dari dulu, BUMN kita antara 300 sampai 400. Begitu dilantik jadi Presiden, baru saya diberitahu, ternyata jumlahnya ada 1.077,” ungkapnya dikutip AFU.ID dari presidenri.go.id, Sabtu (11/7/2026).
Prabowo Subianto menjelaskan kehadiran anak, cucu, hingga cicit BUMN merupakan modus untuk menyembunyikan uang rakyat. Oleh karenanya, perusahaan pelat merah yang tidak sehat dan efisien akan ditertibkan guna menyetop pemborosan.
“Sampai hari ini, kita sudah tutup 240 BUMN yang tidak beres dan akhir Juli nanti akan ada 250 lagi. Kemudian Desember 31 2026, kita akan tutup 800 BUMN yang tidak efisien, untung, dan merugi terus,” tutur Presiden RI.
Kepala Negara menyebut, Pemerintah RI berhemat dalam jumlah besar berkat pembenahan struktur dan efisiensi biaya. Penghematan antara lain berasal dari biaya overhead dan gaji direksi yang nilainya mencapai Rp70 triliun.
Ambisi Prabowo Bangkitkan Industri Strategis Nasional
Presiden Prabowo Subianto juga menyinggung kehadiran Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) yang berfungsi untuk menguatkan perekonomian nasional. Baginya, super holding BUMN itu akan menjadi kekuatan ekonomi rakyat Indonesia yang disatukan untuk memperkuat arah pembangunan nasional.
“Untuk pertama kali dalam sejarah Republik Indonesia, kita sekarang punya dana kedaulatan sendiri, sovereign wealth fund yang namanya Danantara. Sekarang mungkin sudah kelima terbesar di dunia, ini adalah dana kekuatan ekonomi rakyat Indonesia,” ujar Presiden RI.
Selain membenahi BUMN, Presiden RI menegaskan komitmennya untuk mempertahankan dan membangkitkan industri strategis nasional. Ia menyebut sejumlah perusahaan strategis yang sebelumnya sempat direncanakan untuk dijual, kini justru diarahkan untuk diperkuat.
Contohnya adalah Perusahaan Terbuka Penataran Angkatan Laut (PT PAL) dan PT Pindad yang telah menunjukkan perkembangan. Kepala Negara pun menilai, kemampuan industri pertahanan Indonesia telah menunjukkan hasil nyata dan kian mendapat pengakuan.
“PT PAL sekarang sudah bisa bikin kapal-kapal perang yang hebat-hebat dan canggih, seperti kapal selam. PT Pindad baru saja dapat kontrak dari Arab Saudi untuk membangun semua senapan dan senapan mesin tentaranya,” pungkas Prabowo Subianto. (ADR)