AFU.ID, JAKARTA - Hilirisasi mineral kritis menjadi salah satu poin strategis dalam pertemuan bilateral antara Presiden Republik Indonesia (RI), Prabowo Subianto dan Perdana Menteri (PM) Jepang, yakni Sanae Takaichi.
Bertempat di Istana Akasaka, Tokyo, Jepang pada Selasa, 31 Maret 2026, kedua pemimpin sepakat memperdalam hubungan ekonomi melalui penguatan rantai pasok industri masa depan.
Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen Indonesia untuk mempercepat ratifikasi protokol amandemen Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA) dalam waktu dekat.
Pemerintah RI secara terbuka mengundang keterlibatan perusahaan Jepang untuk mengolah kekayaan alam domestik, termasuk pengembangan logam tanah jarang (rare earth).
“Kami terus mengajak dan membuka diri untuk partisipasi Jepang dalam ekonomi Indonesia, juga kerja sama kemitraan di bidang mineral kritis,” ungkap Presiden Prabowo.
“Kami mengundang Jepang partisipasi dalam industrialisasi Indonesia dengan hilirisasi mineral kritis,” sambungnya.
Selain sektor pertambangan, kerja sama tersebut mencakup pengembangan energi terbarukan dan nuklir sebagai bagian dari transisi energi bersih di kawasan Indo-Pasifik.
Presiden RI juga mendorong penguatan inisiatif Asia Zero Emission Community (AZEC) dengan menjanjikan kemudahan operasional bagi proyek-proyek yang sedang berjalan.
“Kami akan mempercepat dan membantu debottlenecking proyek-proyek yang ada, sebagai contoh Legok Nangka maupun Sarulla,” tutur Prabowo Subianto.
Langkah tersebut untuk memastikan hambatan investasi dapat segera teratasi sehingga target emisi nol bersih dapat dicapai sesuai jadwal yang ditetapkan.
Investasi raksasa pada proyek gas abadi Blok Masela oleh Inpex Corporation juga mendapat sambutan hangat agar segera terealisasi pascapenundaan panjang.
Program pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan, pariwisata, dan program people-to-people turut menjadi pembahasan guna mempererat hubungan emosional kedua bangsa.
Hilirisasi mineral kritis dipandang sebagai kunci kemandirian ekonomi Indonesia, sekaligus pendukung utama bagi industri teknologi tinggi di Jepang.
Sinergi tersebut mengirimkan pesan kuat bahwa kedua negara tengah membangun strategi berorientasi masa depan yang fokus pada pertumbuhan hijau berkelanjutan.
Dengan langkah yang semakin cepat, hubungan Jakarta-Tokyo kini memasuki fase baru yang lebih konkret dan menentukan bagi stabilitas ekonomi regional.
Pemerintah optimistis kolaborasi tersebut akan meningkatkan posisi tawar Indonesia sebagai pusat pengolahan sumber daya strategis di pasar internasional.