JAKARTA, AFU.ID — Warga Palestina di Tepi Barat semakin banyak yang terpaksa mengungsi akibat aktivitas militer Israel yang terus meningkat, disertai pembatasan pergerakan yang kian ketat, menurut badan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Jumat kemarin.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) melaporkan para mitra kemanusiaan di Tepi Barat mencatat operasi militer Israel, perluasan pembatasan pergerakan, penghancuran bangunan, perluasan permukiman, serta aksi kekerasan oleh para pemukim Israel terus berlanjut. Akibatnya, kata OCHA, risiko terhadap perlindungan warga Palestina meningkat, dan akses terhadap tempat tinggal, mata pencaharian, serta layanan esensial kian terbatas.
Sejak awal bulan ini, sebanyak 67 orang terpaksa mengungsi akibat penghancuran bangunan, sementara 24 bangunan telah dihancurkan, termasuk dua bangunan yang didanai donatur untuk membantu masyarakat yang membutuhkan. OCHA menyebut otoritas Israel menghancurkan bangunan-bangunan tersebut dengan alasan tidak memiliki izin mendirikan bangunan, yang hampir mustahil diperoleh warga Palestina.
Sejak awal tahun ini, serangan pemukim Israel dan penghancuran bangunan tanpa izin dari otoritas Israel telah menyebabkan lebih dari 3.200 warga Palestina mengungsi. Angka tersebut setara rata-rata 17 orang mengungsi setiap hari, atau dua kali lipat dibandingkan rata-rata harian dalam tiga tahun sebelumnya.
Di tengah situasi tersebut, OCHA menyatakan para mitra kemanusiaan terus menyalurkan bantuan yang dibutuhkan warga. "Para mitra di bidang kesehatan memperingatkan bahwa pemberian layanan medis masih terus terkendala oleh kelangkaan atau tingginya biaya bahan bakar, oli generator, suku cadang, dan berbagai perlengkapan medis," kata OCHA dikutip Sabtu (11/7/2026).
Pada paruh pertama 2026, mitra perlindungan anak telah menjangkau lebih dari 5.300 anak dan 1.670 pengasuh anak di Kegubernuran Yerusalem melalui dukungan psikososial, pengasuhan anak, bantuan darurat, dan layanan lainnya. Di seluruh Tepi Barat termasuk Yerusalem Timur, mitra pendidikan turut mendukung sekitar 60.000 anak melalui program pembelajaran susulan dan remedial, sekaligus merampungkan rehabilitasi darurat di 32 sekolah.
OCHA juga menyoroti kondisi di Gaza, tempat PBB dan mitranya mendukung masyarakat yang mengalami pengungsian berkepanjangan. Dapur Pusat Dunia (World Central Kitchen/WCK) pada Rabu (8/7) melaporkan pasukan Israel menewaskan seorang pengemudi mitra logistiknya saat mengangkut bantuan dari perlintasan Kerem Shalom menuju gudang organisasi di Gaza. WCK menyerukan pertanggungjawaban penuh atas insiden tersebut.
Penyakit menular disebut masih tersebar luas di Gaza. Pekan lalu, mitra kesehatan memberikan lebih dari 243.000 layanan konsultasi medis di lebih dari 200 titik layanan, dengan penyakit saluran pernapasan akut dan penyakit kulit sebagai kasus paling sering dilaporkan, sementara penyakit yang ditularkan melalui air terus meningkat terutama di Khan Younis. Lebih dari 18.000 kasus baru cacar air, infestasi ektoparasit, dan impetigo juga tercatat pada pekan yang sama. (NAD)