AFU.id

Duduk Perkara Pengusiran Warga Israel di Malaysia, Washington Murka, Anwar Ibrahim: Ancaman AS Absurd

Bagikan:

Penulis: Erik Erfinanto

Ringkasan Berita

Pemerintah Malaysia, di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Anwar Ibrahim, menegaskan bahwa mereka akan terus mengusir warga negara Israel yang ditemukan berada di wilayahnya, menyusul penyelidikan terhadap dugaan keberadaan warga Israel di komunitas teknologi Forest City di Johor. Tindakan ini memicu protes dari anggota Kongres AS yang mengancam untuk meninjau hubungan ekonomi dan keamanan dengan Malaysia jika kebijakan tersebut tidak dicabut, yang kemudian ditanggapi Anwar sebagai ancaman "absurd" dan menegaskan bahwa Malaysia akan mempertahankan kebijakan larangan tersebut. Meskipun terdapat ketegangan, Anwar memastikan bahwa hubungan dagang dan investasi Malaysia dengan AS tidak akan terganggu.

Duduk Perkara Pengusiran Warga Israel di Malaysia, Washington Murka, Anwar Ibrahim: Ancaman AS Absurd
PM Malaysia Anwar Ibrahim tak takut ancaman AS terkait keputusan pengusiran warga Israel di Malaysia. (FOTO AFUID)

Sikap Malaysia kemudian menuai reaksi dari Amerika Serikat. Pada Selasa kemarin, delapan anggota Kongres AS dari Partai Demokrat mengirim surat kepada Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio. Mereka meminta Washington meninjau hubungan keamanan dan ekonomi dengan Malaysia serta menghentikan pendanaan International Military Education and Training (IMET) apabila Kuala Lumpur tidak mencabut kebijakan tersebut dalam waktu 15 hari. Surat itu ditandatangani Greg Landsman, Josh Gottheimer, Jimmy Panetta, Dan Goldman, Debbie Wasserman Schultz, Jared Moskowitz, Brad Sherman, dan Jake Auchincloss.

Mereka menilai Malaysia mendiskriminasi warga negara dari sekutu dekat Amerika Serikat hanya berdasarkan kewarganegaraan serta mengkritik hubungan terbuka pemerintah Malaysia dengan Hamas. Menanggapi surat tersebut, Anwar menyebut ancaman anggota Kongres AS sebagai sesuatu yang "absurd". Malaysia tidak akan mengubah kebijakan hanya karena tekanan negara lain. "Mereka boleh mengeluarkan ancaman, tetapi saya akan mempertahankan hak rakyat Malaysia dan keputusan rakyat Malaysia untuk tetap melarang setiap warga negara Israel memasuki Malaysia," tegasnya.

Anwar juga membantah tuduhan bahwa pemerintahnya menyembunyikan hubungan dengan Hamas. Ia mengatakan pertemuannya dengan sejumlah pemimpin Hamas dilakukan secara terbuka sebagai bentuk solidaritas setelah anggota keluarga mereka menjadi korban serangan Israel di Gaza. Meski demikian, Anwar menegaskan perselisihan tersebut tidak akan mengganggu hubungan dagang maupun investasi Malaysia dengan Amerika Serikat.

Menurut data Office of the United States Trade Representative, nilai perdagangan barang antara kedua negara mencapai sekitar US$88,5 miliar sepanjang 2025, dengan impor Amerika Serikat dari Malaysia mencapai US$59,7 miliar, naik 13,7 persen dibanding tahun sebelumnya. Pengamat hubungan internasional dari Taylor's University, Julia Roknifard, menilai polemik tersebut kecil kemungkinan berkembang menjadi konflik dagang atau keamanan yang lebih luas karena hubungan kedua negara dibangun atas kepentingan strategis yang jauh lebih besar. Namun, ia menilai sikap Malaysia yang sangat tegas terhadap Israel dapat memengaruhi persepsi Washington terhadap peran Kuala Lumpur. (EER)

Berita Terkait

Pilihan Redaksi