Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
Kebut Pengesahan IEU-CEPA, Indonesia Jadi Pemasok Utama Mineral Kritis Uni Eropa
Bagikan:
Penulis: Adriyan Adirizky Rahmat · Reporter: Adriyan Adirizky R
Menko Perekonomian RI, Airlangga Hartarto (kanan) bersama Komisioner Perdagangan Uni Eropa, yakni Maros Sefcovic. (Foto: Kemenko Perekonomian RI)
JAKARTA, AFU.ID — Pemerintah Republik Indonesia (RI) berupaya mengebut pengesahan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA). Salah satu poin kerja samanya, Indonesia akan menjadi pemasok utama mineral kritis untuk negara-negara di Uni Eropa.
Melansir website Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Perekonomian RI, Minggu (7/6/2026), IEU-CEPA memberikan tiga dampak positif strategis. Mulai dari perluasan akses pasar, lalu peningkatan perdagangan, hingga penguatan kerja sama investasi antara Indonesia dan Uni Eropa.
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian RI, Airlangga Hartarto, bahkan telah mengadakan pertemuan bilateral dengan Komisioner Perdagangan Uni Eropa, yakni Maros Sefcovic. Agenda itu berlangsung di tengah rangkaian Brussels Economic Security Forum (BESF) 2026 di Brussels, Belgia, Jumat (5/6/2026) waktu setempat.
Airlangga Hartarto menyampaikan, pertemuan bilateral dengan Maros Sefcovic membahas langkah-langkah lanjutan. Hal itu demi memastikan proses pengesahan IEU-ECPA bisa rampung sesuai target.
“Kami menargetkan proses ratifikasi IEU-CEPA dapat diselesaikan pada semester II 2026. Sehingga, implementasinya dapat dimulai pada awal 2027 nanti,” ungkap Menko Airlangga.
Indonesia dan Uni Eropa pun sepakat mengebut perampungan berbagai tahapan yang penting. Apalagi, IEU-CEPA menjadi instrumen penting dalam penguatan hubungan ekonomi antara Indonesia dengan Uni Eropa.
Salah satu manfaat utamanya adalah penghapusan tarif perdagangan terhadap sekitar 98% pos tarif. Bagi Indonesia, kesepakatan tersebut akan membuka pasar yang lebih luas ke Uni Eropa.
Hal tersebut karena sebagian besar produk ekspor nasional mendapatkan fasilitas tarif 0%. Sehingga harapannya, dapat meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar Eropa dan mendukung pertumbuhan ekspor nasional.
“Oleh karena itu, penyelesaian proses ratifikasi menjadi prioritas agar manfaat perjanjian dapat segera dirasakan oleh pelaku usaha di kedua belah pihak,” tutur Menko Airlangga.
Pertemuan juga membahas rencana kunjungan Maros Sefcovic bersama Presiden Komisi Eropa, yakni Ursula von der Leyen ke Indonesia. Termasuk mendiskusikan program Global Gateway Uni Eropa untuk mendukung berbagai proyek strategis, seperti investasi dan pengembangan sektor mineral kritis.
Airlangga Hartarto menyatakan, kerja sama pada sektor tersebut mempunyai prospek yang besar. Pasalnya, Indonesia mempercepat program hilirisasi sumber daya alam (SDA) guna meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.
Di saat yang sama, Uni Eropa sangat membutuhkan pasokan mineral strategis. Hal itu untuk mendukung transisi energi dan pengembangan industri teknologi hijau.
“Pengembangan sektor mineral kritis yang menjadi perhatian kedua pihak,” pungkas Menko Airlangga. (ADR)