JAKARTA, AFU.ID - Indonesia diproyeksikan kekurangan sekitar 93.200 dokter umum pada 2032 jika produksi tenaga medis tidak dipercepat. Kebutuhan dokter umum nasional diperkirakan mencapai 255.420 orang, sementara jumlah yang tersedia hanya sekitar 162.220 orang.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan proyeksi itu mengacu pada Perencanaan Nasional Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Indonesia yang disusun Kementerian Kesehatan bersama Universitas Indonesia.
Dokumen tersebut memetakan kebutuhan tenaga medis dan tenaga kesehatan hingga tingkat kabupaten/kota dalam 10 tahun ke depan. Perhitungan dilakukan dengan melihat sisi pasokan dokter dan kebutuhan layanan kesehatan masyarakat.
“Untuk pertama kalinya di tahun 2025, kita menerbitkan dengan bantuan teman-teman dari Universitas Indonesia mengenai Perencanaan Nasional Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Indonesia. Kita tarik sampai 10 tahun ke belakang karena proses pendidikannya kan dengan dokter dan dokter spesialis itu cukup lama,” kata Budi dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (8/6/2026).
Budi mengatakan hasil proyeksi menunjukkan persoalan dokter umum di Indonesia bukan hanya masalah distribusi antardaerah. Menurut dia, jumlah dokter yang tersedia memang belum mencukupi kebutuhan layanan kesehatan nasional.
“Jadi kita lihat bahwa kebutuhan dokter umum itu gap-nya ya masih sangat merah. Kalau kita dengar ‘Pak sudah cukup masalah di distribusi’, data yang kita miliki tidak demikian,” kata Budi.
Berdasarkan proyeksi Kemenkes, kebutuhan dokter umum pada 2032 mencapai 255.420 orang. Namun, jumlah dokter umum yang tersedia diperkirakan hanya 162.220 orang.
Selisih antara kebutuhan dan ketersediaan itu membuat Indonesia berpotensi kekurangan 93.200 dokter umum dalam enam tahun ke depan.
Budi menyebut hasil perhitungan tersebut telah dibahas bersama sejumlah pemangku kepentingan, termasuk organisasi profesi, kolegium, dan Konsil Kesehatan Indonesia. Hasil proyeksi itu juga disebut dapat diakses oleh publik, termasuk DPR.
Budi mengatakan Indonesia saat ini meluluskan sekitar 12 ribu hingga 14 ribu dokter baru setiap tahun. Namun, jumlah itu belum cukup untuk mengejar kekurangan dokter umum secara nasional.
“Nah ini contohnya gapnya, versi yang kedua kita gapnya untuk dokter umum ada sekitar 93.200, dengan lulusan setahun kita sekitar 12.000 atau mungkin sekarang ada 13.000-14.000 untuk mengejar gap ini. Itu dari konteks Kementerian Kesehatan ya, kita sangat membutuhkan dokter-dokter,” ujar Budi.
Di sisi lain, Kemenkes juga mencatat masih ada lulusan kedokteran yang belum lulus uji kompetensi dokter. Pada periode 2016 hingga 2024, terdapat 2.623 peserta yang belum lulus uji kompetensi.
Dari jumlah tersebut, sekitar 63 persen masih mengikuti ujian kurang dari tiga kali. Sementara 37 persen lainnya telah mengikuti ujian lebih dari tiga kali, tetapi belum berhasil lulus.
Kondisi itu menjadi perhatian pemerintah karena kebutuhan dokter masih besar, sementara proses pendidikan dan kelulusan tenaga medis membutuhkan waktu panjang. (FAD)