JAKARTA, AFU.ID – Media sosial dinilai tidak hanya menjadi ruang percakapan publik, tetapi juga mesin yang membaca kebiasaan penggunanya. Jejak digital, izin akses, hingga durasi menonton konten disebut ikut membentuk algoritma yang menentukan informasi apa yang muncul di layar. Pakar Komunikasi Digital, Rusli Nasrullah, mengatakan pengguna media sosial kerap tidak menyadari bahwa aktivitas mereka sendiri ikut membentuk preferensi konten di platform digital.
“Algoritma itu sebenarnya dibentuk oleh diri anda sendiri sebagai programmer,” kata Rusli dalam acara Roadshow dan Launching Buku Demokrasi Digital: Viralitas, Algoritma, dan Suara Gen Z, Rabu (17/6/2026).
Menurut Rusli, platform seperti Facebook, YouTube, Twitter, Instagram, TikTok, hingga aplikasi percakapan menyediakan sistem yang terus belajar dari perilaku pengguna. Saat seseorang membuat akun, pengguna tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga ikut membentuk cara platform menyajikan konten.
Rusli menyoroti kebiasaan pengguna yang langsung memberi izin akses kepada aplikasi. Izin terhadap kontak, telepon, mikrofon, dan data lain disebut dapat menjadi bahan bagi platform untuk membaca pola pengguna. “Pertama kali ketika adik-adik dan teman-teman bikin media sosial, satu yang ditanyakan oleh media sosial, izinkan kita untuk mengakses kontak, telepon, dan segala macam. Dan anda selalu izinkan,” ujarnya.
Ia mengatakan kondisi itu membuat konten yang muncul di setiap akun bisa berbeda. Isu yang ramai di satu gawai belum tentu menjadi percakapan utama di gawai orang lain. “Trending topic di handphone saya berbeda dengan trending topic di handphone yang lain,” katanya.
Rusli juga menilai pengguna perlu lebih sadar terhadap izin akses yang diberikan kepada aplikasi. Menurut dia, kebiasaan digital yang terlihat sederhana dapat memengaruhi informasi yang dikonsumsi setiap hari. Rusli mengatakan algoritma platform dapat membaca respons pengguna terhadap konten.
Bahkan, aktivitas seperti berhenti beberapa detik pada satu unggahan dapat dianggap sebagai tanda ketertarikan. “Ketika kita dicoba kasih konten soal ini dan kita berhenti 1,7 detik, kita dianggap mengonsumsi konten itu,” kata Rusli.
Menurut dia, kondisi ini membuat pengguna harus lebih aktif mengelola preferensi konten. Jika tidak, platform akan terus menyajikan konten serupa berdasarkan jejak interaksi sebelumnya. Rusli menyebut pengguna kerap lupa bahwa mereka ikut membentuk sistem yang kemudian memengaruhi informasi yang mereka terima.
“Kita selalu membiarkan teknologi itu terlalu cepat, tapi kita lupa bahwa kita juga programmer di aplikasi itu,” ujarnya. Rusli tidak sepenuhnya menyalahkan buzzer, pemerintah, maupun perusahaan tertentu dalam setiap fenomena viral di media sosial.
Menurut dia, viralitas juga dipengaruhi oleh preferensi konten masing-masing pengguna. “Saya salah satu orang yang tidak bisa menyalahkan buzzer, tidak juga bisa menyalahkan pemerintah, tidak juga bisa menyalahkan perusahaan,” katanya.
Namun, ia menegaskan kepentingan bisnis platform tetap tidak bisa diabaikan. Perusahaan media sosial, kata dia, memiliki kebutuhan ekonomi yang membuat iklan dan dorongan konten berbayar tetap berpengaruh. “Kuasa duit itu memang luar biasa banget. Karena perusahaan-perusahaan media sosial ini kan juga butuh bayar gaji dan segala macam,” ujar Rusli.
Ia mengatakan teknologi digital memang membawa banyak manfaat bagi demokrasi dan perubahan cara berpikir masyarakat. Namun, manfaat itu harus dibarengi kesadaran terhadap cara kerja algoritma, perlindungan privasi, dan kepentingan bisnis platform. Menurut Rusli, pengguna tidak cukup hanya memakai media sosial. Publik juga perlu memahami bagaimana platform membaca kebiasaan mereka dan mengubahnya menjadi preferensi konten. (FAD)