JAKARTA, AFU.ID – KontraS Surabaya menemukan dugaan adanya massa bayaran dalam aksi #IndonesiaSekarat di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jumat lalu. Aksi yang bertajuk “Warga Surabaya Turun ke Jalan” itu berujung ricuh sekitar pukul 18.00 WIB. Sejumlah orang merusak pagar Gedung Negara Grahadi dan melempar benda keras ke arah aparat kepolisian.
Kepala Biro Kampanye HAM KontraS Surabaya Zaldi Maulana mengatakan dugaan itu ditemukan berdasarkan pemantauan timnya di lapangan. Menurut dia, ada kelompok yang tampak sudah berada di sekitar lokasi sebelum massa aksi utama tiba. “Tim pemantau KontraS Surabaya melihat sekelompok orang berjumlah 10 orang duduk di sepanjang jalan di depan Kantor Pos Indonesia,” kata Zaldi, Rabu (1/7/2026).
Zaldi mengatakan kelompok tersebut kemudian didatangi empat pria berbadan tegap dengan pakaian serba hitam. Mereka disebut melakukan briefing singkat sebelum aksi berlangsung. Salah satu pria bertopi hitam disebut memasukkan sesuatu ke saku masing-masing anggota kelompok. Peristiwa itu juga disebut didokumentasikan oleh salah satu orang di lokasi.
“Salah satu pria bertopi hitam dari kelompok itu tampak memberikan sesuatu ke dalam saku masing-masing anggota kelompok,” ujar Zaldi. Setelah itu, kelompok tersebut disebut bergeser ke titik aksi saat massa utama tiba di depan Gedung Negara Grahadi untuk berorasi dan membacakan puisi.
KontraS Bantah Ada Molotov
KontraS Surabaya juga membantah keterangan kepolisian yang menyebut massa melempar bom molotov saat kericuhan terjadi. Zaldi mengatakan tim pemantau tidak menemukan bukti adanya pelemparan bom molotov oleh peserta aksi selama pemantauan berlangsung. “Tim Pemantauan KontraS Surabaya tidak menemukan satu pun bukti pelemparan bom molotov yang dilakukan oleh massa aksi,” ucapnya.
Berdasarkan hasil pendampingan hukum dan pemantauan lapangan, KontraS mencatat 24 orang ditangkap dalam peristiwa tersebut. Dari jumlah itu, satu orang merupakan perempuan dan dua orang lainnya anak di bawah umur. Mereka yang diamankan berasal dari latar belakang beragam.
Sebagian merupakan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Surabaya maupun luar daerah, sementara sebagian lainnya masyarakat sipil non-mahasiswa. Dari 24 orang yang diamankan, 14 orang telah dipulangkan. Enam orang dinyatakan positif menggunakan sabu berdasarkan hasil tes urine, sedangkan empat orang ditetapkan sebagai tersangka.
Sebelumnya, Kapolrestabes Surabaya Kombes Luthfie Sulistiawan mengatakan empat tersangka dalam kericuhan aksi Grahadi masing-masing berinisial MA, ARF, NB, dan DSD. Mereka ditahan karena diduga terlibat dalam perusakan fasilitas umum dan penyerangan terhadap petugas. “Sebanyak empat orang sudah kita tetapkan sebagai tersangka perusakan terhadap barang dan juga penyerangan terhadap petugas,” kata Luthfie, Senin kemarin.
Menurut Luthfie, para tersangka datang ke lokasi setelah melihat ajakan yang beredar di media sosial. Salah satu akun Instagram berinisial BA disebut mengunggah ajakan turun ke jalan di Surabaya. Tersangka MA disebut tertarik datang setelah melihat ajakan bernada santai untuk menuju lokasi demonstrasi. Sementara ARF disebut mengetahui informasi aksi dari unggahan Instagram yang sama dan diduga ikut menggeber knalpot sepeda motor untuk memancing massa.
Polisi juga menduga ARF melempar batu ke arah petugas. Adapun NB mengaku datang setelah melihat siaran langsung TikTok melalui ponsel temannya. Sementara DSD disebut telah mengikuti akun Instagram BA sejak peristiwa kerusuhan pada Agustus 2025. “Kita terus mendalaminya apakah betul seperti itu atau memang sebenarnya mereka adalah kelompok-kelompok yang memang terlibat di dalam pengorganisasian aksi kemarin,” ujar Luthfie.
Dari pemeriksaan awal, empat tersangka mengaku tidak datang sebagai bagian dari organisasi atau aliansi tertentu. Mereka disebut bekerja sebagai karyawan dan buruh serta berdomisili di Surabaya dan Gresik. Selain empat tersangka, polisi memproses enam orang yang dinyatakan positif menggunakan sabu. Mereka kini menjalani asesmen bersama BNN Kota Surabaya.
“Terbukti bahwa hasil pemeriksaan urinenya mereka menggunakan sabu,” kata Luthfie. Polisi juga masih memeriksa perangkat komunikasi yang disita dari sejumlah orang yang diamankan. Pemeriksaan itu dilakukan untuk menelusuri kemungkinan adanya jaringan, provokasi, atau pihak lain yang berkaitan dengan ajakan aksi. (FAD)