JAKARTA - AFU.ID, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjadi sorotan publik setelah mengunggah konten peringatan Hari Lahir Pancasila menggunakan gambar lambang Garuda Pancasila yang dibuat AI, Senin (1/6/2026).
Lambang Garuda Pancasila yang dipakai, tidak sesuai pakem resmi, terutama pada jumlah helai bulu ekor yang seharusnya berjumlah delapan, dan buku sayap yang jumlahnya tidak sama, sisi kanan berjumlah 16, sisi kiri berjumlah 15 helai.
Kesalahan ini langsung menuai kritik tajam karena BRIN merupakan lembaga riset negara yang seharusnya menjadi contoh ketelitian.
Melalui akun resmi X @brin_indonesia, BRIN menyampaikan permohonan maaf pada Senin sore pukul 17.00 WIB.
“BRIN Indonesia menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan dalam tayangan konten peringatan Hari Lahir Pancasila yang telah kami bagikan," demikian bunyi pernyataan resmi BRIN.
Hal ini menjadi pelajaran bagi kami untuk lebih teliti, cermat, dan berhati-hati dalam proses pembuatan serta penyebaran konten di masa mendatang.
Lembaga tersebut juga menyatakan telah memperbaiki konten tersebut sebagai bentuk tanggung jawab.
Kejadian ini langsung dikaitkan dengan persoalan yang lebih luas mengenai penggunaan kecerdasan buatan (AI) di kalangan akademisi dan lembaga publik Indonesia.
Sebelumnya, skandal riset di Kopenhagen, Denmark, mencuat ke permukaan. Sejumlah peneliti dan alumni universitas Indonesia, termasuk dari Institut Teknologi Bandung (ITB), juga diduga menggunakan AI.
Kecerdasan buatan itu dipakai untuk memproduksi ratusan abstrak riset palsu yang dipresentasikan dalam konferensi internasional International Society for Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISPPD).
Banyak abstrak tersebut memuat data fabrikasi, termasuk klaim ilmiah yang tidak masuk akal seperti “serotipe O”.
Dekan FMIPA ITB, Aep Patah mengatakan, materi yang dipresentasikan oleh alumnus tersebut sama sekali tidak berkaitan dengan tesis atau penelitian yang pernah dilakukan selama kuliah di ITB.
Kasus di Denmark dan kesalahan BRIN ini memperlihatkan pola yang terulang: menghilangkan nalar kritis, saat manusia harus berperan sebagai verifikator terakhir.
Di BRIN, AI diduga digunakan untuk membuat desain visual konten resmi, tetapi gagal menangkap makna simbolis Garuda Pancasila yang sarat nilai sejarah.
Jumlah bulu sayap 17, bulu ekor 8, serta detail lainnya yang merujuk pada tanggal 17 Agustus 1945, sepenuhnya luput dari perhatian.
Cara Bijak Menggunakan AI
Guru Besar UGM dan Pemerhati Rekayasa Perangkat Lunak, Prof. Ridi Ferdiana, menilai meningkatnya penggunaan AI di kalangan anak muda merupakan suatu keniscayaan bagi generasi yang tumbuh di lingkungan digital tersebut.
Menurutnya, salah satu bentuk disrupsi terbesar bukan hanya kemunculan AI secara umum, tetapi hadirnya generative AI yang mengubah cara berpikir generasi muda.
“Penggunaan AI dari sisi positif dapat memberi perubahan bagi cara belajar dan mengembangkan kreativitas generasi muda. Terlebih adanya teknologi generative AI yang dapat menjadi teman belajar dalam memahami konsep, bukan sekadar memberi jawaban instan,” ujarnya, Rabu (5/11/2025), dikutip dari UGM.AC.
Kendati demikian, penggunaan AI secara berlebih tanpa adanya verifikasi dalam menerima informasi dapat memberikan ketergantungan, ia menyebut fenomena ini sebagai DDA atau ‘dikit-dikit AI’.
Banyak anak muda sekarang yang menggunakan AI di segala aktivitasnya, sehingga berdampak pada fenomena underload yang membuat berkurangnya kemampuan otak dalam berpikir.
Ini dapat beresiko pada penurunan kemampuan berpikir kritis, daya ingat, serta terjadi efek brain rot karena otak jarang diasah.
“Jadi critical thinking dan aspek memorize menurun, makanya yang paling gawat terjadi efek brain rot terjadi karena malas mikir dan dikit-dikit jadi tanya ke AI,” ungkapnya.
Ridi menekankan generasi muda perlu bijak dalam menggunakan AI agar tidak sepenuhnya dikendalikan oleh teknologi. Ia memperkenalkan konsep ERA, singkatan dari Esensial, Rating dan Applicable yang merupakan tiga prinsip penting sebagai pedoman etika dan literasi digital generasi muda.
Tiga konsep ERA ini mencakup Esensial yang menekankan dalam mencari pengetahuan dasar harus tetap menggunakan buku sebagai sumber acuan ilmiah, bukan langsung menggunakan AI.
Selanjutnya ada Rating yaitu perlunya berpikir secara kritis dalam mempertimbangkan keputusan, baru memanfaatkan AI untuk bertanya tentang opini dari keputusan tersebut.
Hal ini diperlukan demi menjaga kemampuan analisis dan memilah keputusan dari diri sendiri. Lalu terakhir Applicable yang memanfaatkan AI sebagai alat bantu dalam memperbaiki dan menyelesaikan tugas, namun dengan catatan bahwa tahapan Esensial dan Rating sudah dipahami dengan baik.
“Dari situ kita menjadikan generative AI sebatas partner kita, bukan menggantikan peran kita untuk menyelesaikan permasalahan secara penuh,” pungkasnya. (EER)