JAKARTA - AFU.ID, Dunia riset internasional dihebohkan dengan adanya dugaan pemalsuan penelitian yang melibatkan sejumlah warga negara Indonesia (WNI) dalam Konferensi ISPPD 2026 (International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Diseases) di Kopenhagen, Denmark, pada 17-21 Mei 2026.
Para terduga, disebut berganti-ganti identitas, merekayasa data menggunakan kecerdasan buatan (AI), hingga mencantumkan nama anggota keluarga sebagai co-peneliti.
Kasus ini pertama kali diungkap oleh salah satu peserta konferensi melalui media sosial Threads @mandharabrasika yang melaporkan secara langsung dari lokasi, di Kopenhagen, Denmark, Selasa (26/5/2026).
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Pemerintah Denmark maupun Kedutaan Besar Denmark untuk Indonesia terkait insiden tersebut.
Menurut keterangan Mandhara dalam unggahannya, pelaku melakukan presentasi ilmiah di forum ini, di hadapan ribuan ilmuwan dunia, dengan berganti-ganti identitas hanya dengan mengubah jilbab dan tanda pengenal nama (name tag).
Hal ini langsung memicu kecurigaan di antara peserta konferensi lain yang hadir. Kejanggalan mulai terlihat saat oknum WNI yang sama tampil berkali-kali dalam sesi berbeda dengan nama dan afiliasi institusi yang juga berbeda.
"Beberapa orang Indonesia ketahuan melakukan pemalsuan terorganisir di depan ribuan ilmuwan dunia," tulis akun tersebut.
Akun yang sama juga mengungkap bahwa modus yang digunakan adalah berganti-ganti identitas hanya dengan mengubah jilbab dan name tag. "Salah seorang pelaku melakukan pemalsuan identitas. Modusnya pelaku berganti-ganti nama saat berpresentasi, bermodal ganti jilbab dan nametag," sambungnya.
Kecurigaan semakin menguat setelah dirinya merangkum temuan lebih detail. Disebutkan bahwa setidaknya tiga nama menjadi pusat penyelidikan: Prihantini (Titin), Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti.
Tak hanya identitas yang dipalsukan, hasil penelitian yang dipresentasikan juga diduga palsu. Seluruh materi presentasi merupakan hasil fabrikasi data menggunakan AI.
"Bukan hanya identitas, risetnya pun palsu! Dibuat dengan AI dan atau fabrikasi data. Risetnya dibuat terlihat sangat hebat. Padahal risetnya tidak pernah ada. Datanya palsu di-generate AI, gambar, dan tulisannya juga," jelasnya.
Salah satu kejanggalan yang paling mencolok adalah lokasi penelitian yang disebutkan. Menurut unggahan tersebut, kelompok periset ini mencantumkan lokasi riset di Peruvian Andes, dataran tinggi Ethiopia, Guatemala, Lebanon, Yordania, Bangladesh, Sudan Selatan, Filipina, Kenya, Nepal, Malawi, dan India Utara tanpa adanya kolaborator setempat maupun keterangan persetujuan etik.
"Dampaknya fatal. Bukan hanya ke pelaku, tapi semua peneliti dari Indonesia kena getahnya. Kredibilitas Indonesia dipertanyakan," tulis Mandhara dalam unggahannya.
Diduga untuk Mendapatkan Travel Grant
Dugaan sementara, motif utama dari skema yang dijalankan para pelaku adalah untuk mendapatkan dana perjalanan (travel grant) ke luar negeri secara gratis, dengan cara mempresentasikan penelitian fiktif di forum bergengsi.
"Saat ini, ilmuwan Indonesia di tingkat dunia sangat sedikit jumlahnya. Dengan kejadian ini, akan semakin sulit lagi," kata Mandhara.
Salah satu fakta yang paling mengejutkan adalah ditemukannya nama anggota keluarga dalam manuskrip. Mandhara menuding bahwa dalam manuskrip fiktif tersebut, oknum pelaku mencantumkan nama anggota keluarganya sendiri.
Nama Elfiany Syafruddin, diduga merupakan ibu kandung, dan Sahnaz diduga merupakan adik kandung terduga. Kedua nama itu ditulis sebagai peneliti, meskipun yang bersangkutan bukan staf di institusi yang tercantum dalam afiliasi.
Klarifikasi Terduga
Salah satu pihak yang disebut dalam isu ini, Rifaldy Fajar, akhirnya buka suara. Melalui pernyataan tertulis yang dikutip oleh Harian Disway pada Selasa (26/5/2026), Rifaldy menyatakan pihaknya masih menyusun klarifikasi secara berjenjang.
"Kami akan klarifikasi satu per satu. Tapi mohon tunggu dulu karena kami perlu menyusun runtutannya. Informasi yang saat ini ramai beredar di media sosial menurut kami tidak sepenuhnya sesuai fakta," ujar Rifaldy.
Rifaldy juga menyampaikan kekhawatirannya terhadap situasi yang membawa arus netizen yang disebutnya "tidak lagi bijak dalam menyikapi permasalahan". Hingga berita ini diturunkan, ia belum merinci bantahan atas bukti-bukti yang beredar.
Sementara itu, rekan terduga berinisial P dilaporkan mengalami peretasan pada akun media sosialnya pada Selasa (26/5/2026) dan saat ini tidak dapat diakses. (EER)