JAKARTA, AFU.ID – Lembaga Pemilih Indonesia atau LPI menyebut sosok Presiden ke-7 RI Joko Widodo menjadi magnet utama bagi Partai Solidaritas Indonesia atau PSI. Hal itu terlihat dari hasil survei LPI yang menunjukkan kedekatan PSI dengan Jokowi dinilai mampu meningkatkan citra positif partai sekaligus memengaruhi dukungan publik.
Direktur Riset dan Kebijakan Politik LPI Fernando Emas mengatakan, temuan tersebut menggambarkan bahwa politik Indonesia masih kuat dipengaruhi figur. Dalam kasus PSI, persepsi publik terhadap Jokowi ikut terbawa ke penilaian terhadap partai. "Terhadap PSI, terjadi perpindahan persepsi dari figur kepada partai," kata Fernando dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (20/6/2026).
Berdasarkan survei LPI, rata-rata 70,2 persen responden menilai kedekatan PSI dengan Jokowi dapat meningkatkan citra positif partai. Rinciannya, 37,7 persen responden menilai dapat meningkatkan, 26,4 persen cukup dapat meningkatkan, dan 6,1 persen sangat dapat meningkatkan. Sementara itu, 15,5 persen responden menilai kedekatan dengan Jokowi tidak dapat meningkatkan citra PSI. Kemudian 10,5 persen responden menjawab kurang dapat meningkatkan, sedangkan 3,8 persen tidak menjawab.
Survei yang sama juga menunjukkan rata-rata 77,8 persen responden menilai Jokowi memiliki pengaruh terhadap dukungan masyarakat kepada PSI. Sebanyak 35,8 persen responden menilai Jokowi berpengaruh, 30,9 persen cukup berpengaruh, dan 11,1 persen sangat berpengaruh.
Di sisi lain, 16,9 persen responden menjawab kurang berpengaruh dan 3,5 persen menilai tidak berpengaruh. Adapun 1,8 persen responden memilih tidak tahu atau tidak menjawab. Fernando menilai citra Jokowi yang selama ini diasosiasikan sebagai figur merakyat ikut melekat pada PSI. Dalam survei tersebut, rata-rata 64,9 persen responden menilai PSI sebagai partai yang merakyat seperti Jokowi.
Angka itu terdiri dari 30,5 persen responden yang menjawab cukup merakyat, 25,5 persen merakyat, dan 8,9 persen sangat merakyat. Sementara 21,4 persen responden menilai PSI kurang merakyat, 11,7 persen tidak merakyat, dan 2 persen tidak menjawab. Pada aspek kepemimpinan, rata-rata 62,8 persen responden menilai PSI mencerminkan gaya kepemimpinan Jokowi.
Rinciannya, 32,3 persen responden menilai cukup mencerminkan, 24,6 persen mencerminkan, dan 5,9 persen sangat mencerminkan. Sementara 17,9 persen responden menilai tidak mencerminkan, 12,1 persen kurang mencerminkan, dan 7,3 persen tidak menjawab atau tidak tahu. Fernando menyebut temuan itu menunjukkan PSI dan Jokowi semakin kuat diasosiasikan sebagai satu identitas politik di mata publik.
"Ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari strategi komunikasi politik partai yang konsisten sejak bergabungnya pendukung Jokowi ke PSI hingga terpilihnya Kaesang Pangarep sebagai Ketua Umum," kata Fernando.
Survei LPI bertajuk Pengaruh Sosok Jokowi terhadap Citra PSI dalam Pandangan Masyarakat digelar secara daring di 32 provinsi pada 10–17 Juni 2026. Survei melibatkan 1.922 responden berusia 17 tahun ke atas atau sudah memiliki hak pilih, baik di wilayah perkotaan maupun perdesaan.
Sampel diambil menggunakan metode multistage random sampling dengan teknik stratified quota sampling berdasarkan wilayah, jenis kelamin, kelompok usia, dan pendidikan. Survei tersebut memiliki margin of error sekitar 2,54 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. (ANT/FAD)