JAKARTA, AFU.ID — Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) menggelar aksi demonstrasi di Banda Aceh, Aceh, hari ini, Jumat (3/7/2026). Aksi bertajuk #AcehPerluBantuanNegara ini digelar untuk menyuarakan tuntutan atas kondisi masyarakat Aceh yang hingga kini masih menghadapi dampak berat pascabencana banjir bandang di Sumatra.
Seruan aksi disampaikan BEM UI melalui akun Instagram resminya, @bemui_official, pada Kamis kemarin. Dalam unggahan tersebut, BEM UI mengajak mahasiswa, masyarakat sipil, dan seluruh elemen rakyat Indonesia untuk turun ke jalan bersama-sama menyuarakan tuntutan mereka. Diketahui, aksi dimulai sekitar pukul 14.00 WIB, dengan titik kumpul di Stadion H. Dimurthala, Kota Baru, Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh. Massa aksi selanjutnya bergerak menuju dua titik utama, yakni Simpang Surabaya di Jalan Medan-Banda Aceh, Lamseupeung, Kecamatan Lueng Bata, serta Kantor Gubernur Aceh di Jalan Teuku Nyak Arief, Jeulingke, Kecamatan Syiah Kuala.
Dalam keterangannya, BEM UI menyebut, pasca delapan bulan berlalu sejak tragedi Sumatra, kondisi di Aceh masih memperihatinkan. BEM UI merincikan, terdapat lima wilayah di Aceh yang belum pulih secara struktural mencakup rumah warga runtuh, fasilitas pendidikan terbengkalai, dan lahan perkebunan rusak. “Masyarakat mengaku belum merasakan bantuan yang berarti dari pemerintah,” tulis keterangan BEM UI dalam akun Instagramnya.
Lebih lanjut, BEM UI menegaskan, negara seharusnya wajib melindungi hak dasar warganya sesuai Pasal 28I ayat (4) UUD 1945. Namun kata BEM UI, Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian justru menganggap pemulihan tersebut adalah hal yang mudah, sementara rakyat di lapangan masih bergulat dengan ketidakpastian sandang, pangan, dan papan. “Kita tidak boleh diam!” tegas BEM UI dalam keterangan yang sama.
Kondisi tersebut membuat warga belum memperoleh bantuan yang memadai serta belum merasakan kehadiran negara secara nyata dalam memenuhi kebutuhan dasar mereka. Lambatnya proses rehabilitasi inilah yang mendorong BEM UI bersama elemen masyarakat lain turun ke jalan mendesak pemerintah pusat segera mengambil langkah konkret.
Menyusul aksi ini, Satuan Lalu Lintas Polresta Banda Aceh diperkirakan akan kembali menerapkan rekayasa lalu lintas berupa sistem contraflow di sekitar lokasi unjuk rasa, mengacu pada pola pengaturan yang pernah diterapkan pada aksi serupa dengan titik yang sama di depan Kantor Gubernur Aceh pada Mei 2026. Jalur dari arah Masjid Oman menuju Kantor Gubernur Aceh berpotensi ditutup sementara secara total, sementara arus dari Simpang Mesra menuju RSUD dr. Zainoel Abidin diperkirakan tetap dipertahankan melalui skema contraflow. Meski demikian, pengaturan lalu lintas pada aksi hari ini tetap dapat berubah sewaktu-waktu menyesuaikan kondisi di lapangan. (NAD)