JAKARTA, AFU.ID — Sejumlah wilayah di Sumatra Barat kembali dilanda banjir di tengah proses pemulihan bencana besar yang terjadi pada akhir November 2025 yang belum sepenuhnya tuntas. Hujan lebat yang mengguyur pada Senin (03/08/26) memicu banjir di Kota Padang, Kabupaten Agam, dan Kota Pariaman. Kota Padang menjadi wilayah paling terdampak dengan genangan yang dilaporkan tersebar di sedikitnya 15 titik.
Di Kota Padang, banjir merendam Kecamatan Kuranji, Koto Tangah, dan Bungus Teluk Kabung. Petugas gabungan dikerahkan untuk mengevakuasi warga menggunakan perahu setelah air memasuki permukiman dan menutup sejumlah ruas jalan. Arus air yang cukup deras di beberapa lokasi juga sempat menyeret kendaraan milik warga.
Sedikitnya 35 kepala keluarga di kawasan Lapau Munggu, Kecamatan Kuranji, harus dievakuasi. Petugas memprioritaskan kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan ibu hamil. Hingga Senin malam, proses pendataan korban dan kerugian masih berlangsung karena hujan belum sepenuhnya reda.
Banjir juga terjadi di Kabupaten Agam, tepatnya di Jorong Kubu dan Jorong Nagari di Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya. BPBD Agam menyebut banjir ini merupakan dampak lanjutan dari bencana akhir November 2025, akibat pendangkalan Sungai Batang Kumayo dan Batang Rangeh yang masih dipenuhi material longsor. Balai Wilayah Sungai V Padang masih mengoperasikan alat berat untuk normalisasi aliran sungai, meski luapan air kembali terjadi.
Kejadian banjir terbaru ini berlangsung saat Sumatra Barat masih berada dalam fase rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana 2025. Pemerintah provinsi menetapkan masa pemulihan berlangsung pada 2026–2028, mencakup perbaikan permukiman, jalan, jembatan, fasilitas umum, irigasi, hingga sektor pertanian. Berdasarkan data resmi, total kerusakan dan kerugian akibat bencana tersebut mencapai sekitar Rp33,55 triliun, dengan kebutuhan pemulihan diperkirakan sebesar Rp21,45 triliun.
Pemprov Sumatra Barat pada Juli 2026 mengakui bahwa proses pemulihan belum berjalan merata. Kendala utama meliputi pendataan kerusakan, penyesuaian anggaran, serta proses pengadaan yang masih berlangsung. Pemerintah pusat telah menyalurkan tambahan Transfer ke Daerah sebesar Rp2,6 triliun, namun sebagian wilayah kembali terdampak bencana sebelum seluruh program pemulihan rampung. Sebagian besar dana tersebut difokuskan untuk pembangunan kembali infrastruktur dasar.
Situasi serupa juga masih terjadi di Kabupaten Gayo Lues, Aceh, yang menjadi salah satu daerah terdampak berat banjir dan longsor pada akhir November 2025. Pemerintah daerah memperpanjang status masa transisi darurat selama tiga bulan pada akhir Juli karena berbagai sektor belum pulih, termasuk ekonomi masyarakat, lahan pertanian, hunian, normalisasi sungai, serta akses transportasi darat. Sejumlah jalur penghubung Gayo Lues dengan Aceh Tenggara, Aceh Timur, Aceh Barat Daya, dan Aceh Tengah juga masih dalam tahap perbaikan sementara dan belum sepenuhnya permanen.
Perpanjangan status tersebut dilakukan untuk memastikan penanganan rumah rusak, bantuan warga, serta pemulihan infrastruktur tetap berjalan sebelum memasuki tahap rehabilitasi dan rekonstruksi penuh. Pemerintah Kabupaten Gayo Lues menilai sejumlah indikator dasar seperti layanan publik, ekonomi, pengungsian, akses jalan, dan hunian tetap masih belum terpenuhi. Pembangunan hunian permanen bagi sebagian warga terdampak juga direncanakan mulai berjalan pada September 2026.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut banjir di Sumatra Barat dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi yang berlangsung lama. Sementara itu, BMKG sebelumnya mendeteksi keberadaan Bibit Siklon Tropis 94W di Laut Filipina yang meningkatkan potensi hujan lebat di wilayah barat Sumatra pada periode 3–5 Agustus 2026. Masyarakat di daerah rawan diminta tetap waspada, mengikuti arahan petugas, dan memantau informasi cuaca resmi selama kondisi ini berlangsung. (RHU)