AFU.ID - Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, menyoroti kondisi pembelajaran di Provinsi Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar) yang hingga kini belum ideal akibat dampak bencana. Ia mendesak pemerintah untuk mempercepat penanganan fasilitas pendidikan yang masih sangat minim.
Berdasarkan data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), sebanyak 99 dari 4.852 sekolah terdampak terpaksa melaksanakan kegiatan belajar mengajar di tenda atau kelas darurat. Selain itu, 22 sekolah lainnya masih menumpang karena bangunan lama hanyut dan memerlukan relokasi total.
Hetifah mendorong percepatan revitalisasi karena hingga saat ini baru sekitar 30 persen sekolah terdampak yang menjalankan Perjanjian Kerja Sama Revitalisasi dengan Kemendikdasmen.
"Saat ini hunian sementara tidak selalu terkoneksi dengan fasilitas umum dan sarana pendidikannya. Ini pasti akan berpengaruh dengan kondisi pembelajaran anak-anak," ujar Hetifah kepada wartawan, Jumat 20 Februari 2026.
Legislator dari Partai Golkar tersebut menekankan bahwa anggaran rehabilitasi tidak boleh hanya fokus pada pembangunan fisik gedung. Menurutnya, pemulihan harus mencakup penyediaan perangkat sekolah, laboratorium, hingga pendampingan bagi sumber daya guru yang terdampak bencana.
Hingga saat ini, Kemendikdasmen memperkirakan total kebutuhan anggaran rehabilitasi dan rekonstruksi di tiga provinsi tersebut mencapai Rp5,5 triliun. Namun, dana yang baru disalurkan baru menyentuh angka Rp1 triliun.
Selain masalah infrastruktur, Hetifah menggarisbawahi lokasi Hunian Sementara (Huntara) yang tidak terintegrasi dengan akses pendidikan. Ia meminta sinergi yang lebih kuat antar pemangku kepentingan dalam perencanaan pembangunan Hunian Tetap (Huntap) di masa mendatang.
"Untuk itu dalam pembangunan huntap kelak perlu sinergi yang lebih baik terutama untuk sekolah-sekolah yang akan direlokasi," pungkasnya. (*)