Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
Saudi Segera Punya Fasilitas Pengayaan Uranium setelah Dapat Restu dari Trump, Saingi Nuklir Iran?
Bagikan:
Penulis: Erik Erfinanto
Ringkasan Berita
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan telah menyetujui kesepakatan kerja sama nuklir dengan Arab Saudi, yang memungkinkan kerajaan tersebut untuk membangun fasilitas pengayaan uranium untuk program nuklir sipilnya, sebuah langkah yang berpotensi memicu perlombaan senjata nuklir di Timur Tengah. Kesepakatan ini, yang masih harus disetujui oleh Kongres AS, menimbulkan kekhawatiran karena tidak mewajibkan Arab Saudi untuk menerapkan Protokol Tambahan dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA), yang memberikan hak inspeksi lebih besar. Meskipun Arab Saudi menegaskan bahwa program nuklirnya bertujuan untuk kebutuhan energi dan teknologi sipil, pernyataan Putra Mahkota Mohammed bin Salman tentang pengembangan senjata nuklir jika Iran memilikinya menambah ketegangan di kawasan tersebut.
Donald Trump bersama Pengeran Arab Saudi Mohammed bin Salman. (FOTO AFUID)
Jakarta, AFU.ID – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan telah menyetujui kesepakatan kerja sama nuklir dengan Arab Saudi yang membuka jalan bagi kerajaan itu untuk memiliki fasilitas pengayaan uranium bagi program nuklir sipilnya. Jika terealisasi, kesepakatan tersebut akan menjadi perubahan besar dalam kebijakan nuklir Washington di Timur Tengah dan memicu kekhawatiran baru mengenai potensi perlombaan senjata nuklir di kawasan.
Laporan tersebut pertama kali diungkap The Wall Street Journal dan The New York Times, mengutip sejumlah sumber yang mengetahui proses negosiasi. Menurut mereka, pengumuman resmi kesepakatan itu dapat dilakukan secepatnya pada Rabu (22/7) waktu setempat. Berdasarkan rancangan perjanjian, kerja sama akan berlangsung selama 30 tahun dan melibatkan perusahaan-perusahaan Amerika Serikat dalam pengembangan industri nuklir sipil Arab Saudi.
Salah satu poin terpenting dalam kesepakatan itu adalah kemungkinan pembangunan fasilitas pengayaan uranium di Arab Saudi setelah dilakukan studi bersama oleh kedua negara. Pengayaan uranium merupakan proses penting dalam siklus bahan bakar nuklir untuk pembangkit listrik, tetapi teknologi yang sama juga dapat digunakan sebagai tahap awal menuju pengembangan senjata nuklir apabila uranium diperkaya hingga tingkat yang sangat tinggi.
Kesepakatan tersebut masih harus diajukan ke Kongres Amerika Serikat untuk ditinjau. Proses ini diperkirakan tidak akan berjalan mulus karena sejumlah anggota parlemen telah menyuarakan kekhawatiran bahwa memberikan kemampuan pengayaan uranium kepada Arab Saudi dapat memicu perlombaan nuklir baru di Timur Tengah. Kekhawatiran itu semakin menguat karena perjanjian tersebut disebut tidak akan mewajibkan Arab Saudi menerapkan Additional Protocol dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Protokol tambahan itu memberikan kewenangan lebih besar kepada IAEA untuk melakukan inspeksi, pemantauan, dan verifikasi terhadap fasilitas nuklir suatu negara guna memastikan tidak ada pengalihan program sipil menjadi program senjata. Meski demikian, Arab Saudi tetap merupakan anggota IAEA dan secara resmi menyatakan program nuklirnya bertujuan memenuhi kebutuhan energi serta pengembangan teknologi sipil.
Kesepakatan ini muncul di tengah ketegangan antara Iran dengan AS dan Israel masih belum mereda. Hubungan antara Iran dan Saudi pun masih panas-dingin. Selama ini, Washington menyatakan operasi militernya terhadap Iran bertujuan mencegah Teheran memperoleh kemampuan memproduksi senjata nuklir. Iran berulang kali membantah tuduhan tersebut dan menegaskan program pengayaan uraniumnya hanya untuk tujuan damai. Namun negara itu sebelumnya mengakui telah memperkaya uranium hingga mendekati tingkat yang dapat digunakan untuk membuat senjata nuklir, sehingga memicu kekhawatiran negara-negara Barat.
Pemerintahan Trump maupun pendahulunya, Joe Biden, sama-sama berupaya menjalin kerja sama nuklir dengan Arab Saudi sebagai bagian dari penguatan hubungan strategis kedua negara. Namun, pembahasan selalu menemui kendala karena Riyadh bersikeras ingin memiliki kemampuan memperkaya uranium sendiri. Sejumlah pakar nonproliferasi memperingatkan bahwa keberadaan sentrifugal pengayaan uranium di Arab Saudi dapat membuka peluang bagi kerajaan itu untuk mengembangkan program senjata nuklir di masa depan apabila situasi keamanan kawasan berubah.
Kekhawatiran tersebut diperkuat oleh pernyataan Putra Mahkota Mohammed bin Salman beberapa tahun lalu yang menegaskan Arab Saudi akan mengembangkan senjata nuklir apabila Iran berhasil memilikinya. Meski demikian, para ahli menekankan bahwa kemampuan memperkaya uranium tidak otomatis berarti suatu negara dapat memproduksi bom nuklir. Pengembangan senjata nuklir masih memerlukan berbagai tahapan teknologi lain, termasuk penguasaan sistem peledak presisi dan mekanisme pemicu yang jauh lebih kompleks. (EER)