AFU.id

Saudi Segera Punya Fasilitas Pengayaan Uranium setelah Dapat Restu dari Trump, Saingi Nuklir Iran?

Bagikan:

Penulis: Erik Erfinanto

Ringkasan Berita

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan telah menyetujui kesepakatan kerja sama nuklir dengan Arab Saudi, yang memungkinkan kerajaan tersebut untuk membangun fasilitas pengayaan uranium untuk program nuklir sipilnya, sebuah langkah yang berpotensi memicu perlombaan senjata nuklir di Timur Tengah. Kesepakatan ini, yang masih harus disetujui oleh Kongres AS, menimbulkan kekhawatiran karena tidak mewajibkan Arab Saudi untuk menerapkan Protokol Tambahan dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA), yang memberikan hak inspeksi lebih besar. Meskipun Arab Saudi menegaskan bahwa program nuklirnya bertujuan untuk kebutuhan energi dan teknologi sipil, pernyataan Putra Mahkota Mohammed bin Salman tentang pengembangan senjata nuklir jika Iran memilikinya menambah ketegangan di kawasan tersebut.

Saudi Segera Punya Fasilitas Pengayaan Uranium setelah Dapat Restu dari Trump, Saingi Nuklir Iran?
Donald Trump bersama Pengeran Arab Saudi Mohammed bin Salman. (FOTO AFUID)

Kesepakatan ini muncul di tengah ketegangan antara Iran dengan AS dan Israel masih belum mereda. Hubungan antara Iran dan Saudi pun masih panas-dingin. Selama ini, Washington menyatakan operasi militernya terhadap Iran bertujuan mencegah Teheran memperoleh kemampuan memproduksi senjata nuklir. Iran berulang kali membantah tuduhan tersebut dan menegaskan program pengayaan uraniumnya hanya untuk tujuan damai. Namun negara itu sebelumnya mengakui telah memperkaya uranium hingga mendekati tingkat yang dapat digunakan untuk membuat senjata nuklir, sehingga memicu kekhawatiran negara-negara Barat.

Pemerintahan Trump maupun pendahulunya, Joe Biden, sama-sama berupaya menjalin kerja sama nuklir dengan Arab Saudi sebagai bagian dari penguatan hubungan strategis kedua negara. Namun, pembahasan selalu menemui kendala karena Riyadh bersikeras ingin memiliki kemampuan memperkaya uranium sendiri. Sejumlah pakar nonproliferasi memperingatkan bahwa keberadaan sentrifugal pengayaan uranium di Arab Saudi dapat membuka peluang bagi kerajaan itu untuk mengembangkan program senjata nuklir di masa depan apabila situasi keamanan kawasan berubah.

Kekhawatiran tersebut diperkuat oleh pernyataan Putra Mahkota Mohammed bin Salman beberapa tahun lalu yang menegaskan Arab Saudi akan mengembangkan senjata nuklir apabila Iran berhasil memilikinya. Meski demikian, para ahli menekankan bahwa kemampuan memperkaya uranium tidak otomatis berarti suatu negara dapat memproduksi bom nuklir. Pengembangan senjata nuklir masih memerlukan berbagai tahapan teknologi lain, termasuk penguasaan sistem peledak presisi dan mekanisme pemicu yang jauh lebih kompleks. (EER)

Berita Terkait

Pilihan Redaksi